Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2011

Rendahnya Tradisi Menulis Bagi Mahasiswa

Menulis dan membaca sudah diajarkan sejak TK (taman kanak-kanak) atau mungkin malah sebelum TK, tetapi yang diherankan maengapa hal tersebut bellum melekat pada diri kita selama ini, mengapa hanya sekedar bisa membaca dan menulis apabila kita masih menempuh meja pendidikan dan itu pun apabila  mendapat tugas dari  guru  atau dosen.
Baca SelengkapnyaRendahnya Tradisi Menulis Bagi Mahasiswa

Otokritik Terhadap Prilaku Pragmatis Mahasiswa

Mahasiswa sering disebut sebagai kaum intelektual, memiliki kapasitas berfikir yang lebih kuat daripada yang lainnya. Selain itu, idealisme mahasiswa manusia telah mengukir sejarah, dibuktikan melalui Gerakan Mahasiswa (Germa) yang telah terjadi beberapa kali. Seperti dalam peristiwa reformasi ’98. Gerakan mahasiswa membawa perubahan besar bagi perkembangan stabilitas nasional, fungsi dan peran mahasiswa sebagai pengawas pemerintah dan agent or change telah dapat dibuktikan.
Baca SelengkapnyaOtokritik Terhadap Prilaku Pragmatis Mahasiswa

Minggu, 30 Januari 2011

Salam dan Opini dari Pelajar Indonesia yang Berada di Malaysia


Masih berkaitan dengan situasi Indonesia dan Malaysia yang semakin memanas di tiap harinya.
Berikut adalah tanggapan/opini dari pelajar Indonesia yang ada di Malaysia sekarang ini.
Namanya Penulis Opini/pendapat ini adalah Wening Gemi Nastiti, Seorang warga negara Indonesia yang sedang belajar di Malaysia.
Opini langsung tanpa ada yang di potong atau di tambahkan
Baca SelengkapnyaSalam dan Opini dari Pelajar Indonesia yang Berada di Malaysia

Kamis, 27 Januari 2011

Pemimpin Orang Bertakwa

Menjadi pemimpin berarti telah memikul sebuah beban yang sangat berat dan kelak pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di akhirat. Meskipun demikian, ternyata berjuta-juta orang hari ini masih bermimpi dan berjuang keras untuk menduduki kursi dan jabatan sebagai seorang pemimpin. Padahal, memimpin diri sendiri dan keluarga saja susahnya bukan main, apalagi jika mesti memimpin ratusan juta manusia dari beragam suku dan golongan yang berbeda kelas pendidikan, sikap, dan kebiasaan.

Rasulullah bersabda: "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan kaum tersebut". (HR Abu Nu'aim). Sayangnya, hari ini banyak pemimpin yang justru bersikap sebaliknya. Mereka malah memperalat kaum yang dipimpinnya untuk kepentingan diri, keluarga, partai, dan golongannya sendiri. Sangat langka sosok pemimpin idaman yang muncul ke permukaan dan bersikap seumpama pelayan kaumnya, seperti cerminan hadis di atas.


Sesungguhnya menjadi pemimpin tidaklah seenak yang dibayangkan para pemburu kekuasaan. Di dalam Alquran, Allah menceritakan orang-orang yang bermartabat tinggi. Dan, dalam salah satu doa, mereka meminta agar diangkat menjadi seorang pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa: "Waj'alna li al-muttaqina immama" (al-Furqan ayat [25]: 74).

Mengapa mereka hanya meminta kepada Allah untuk menjadi pemimpin bagi orang yang bertakwa? Ternyata menjadi pemimpin bagi orang-orang durhaka dan kufur nikmat sama sekali tidak menyenangkan. Jika sang pemimpin berbuat baik kepada mereka, mereka tidak mensyukurinya, bahkan sebaliknya malah mencelanya. Akan tetapi, jika sang pemimpin berbuat kesalahan kecil saja, mereka akan ramai-ramai menghujat, memaki, menghina, dan kalau memungkinkan membunuhnya. Tegasnya, menjadi pemimpin orang-orang durhaka, hanya lebih banyak mendapatkan sakit hati daripada mendapatkan nikmatnya.

Lantas mengapa berjuta-juta manusia masih saja haus kursi kekuasaan? Tidak lain penyebabnya adalah karena besarnya gelora nafsu dalam dada mereka.

Pada zaman Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallahu 'Anhum, hampir 100 persen umat di masa itu terdiri atas orang-orang yang bertakwa. Bahkan, Allah memuji mereka sebagai orang-orang yang diridai-Nya (QS at-Taubah [9]: 100). 

Para Khalifah khususnya Abu Bakar dan Umar merasakan nikmatnya menjadi pemimpin atas orang-orang yang bertakwa itu. Sedangkan Utsman dan Ali mulai mengalami gejolak dengan munculnya orang-orang durhaka meskipun masih dalam jumlah minoritas. Kenyataannya, walaupun manusia durhaka pada zaman itu hanya segelintir jumlahnya, ternyata keempat pemimpin yang mulia itu justru mati dibunuh oleh manusia-manusia durhaka itu.

Bagaimana dengan negeri kita tercinta ini? Apakah lebih banyak orang salehnya daripada mereka yang durhaka? Jika kita jujur menilai, pasti jawaban yang diperoleh sudah sama-sama dimaklumi. Lantas jika sudah maklum akan jawabannya, masihkah kita bermimpi untuk memburu kursi kekuasaan? Wallahu a'lam bishawab.(ramsol/tengkuzulkarnaian.republika)
Baca SelengkapnyaPemimpin Orang Bertakwa

Di manakah Allah

Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad ibnu Taimiyyah rohimahulloh pernah ditanya mengenai dua orang yang berselisih tentang masalah akidah/keyakinan. Seorang di antaranya berkata, “Orang yang tidak meyakini Alloh Subhanahu wa Ta’ala di atas langit adalah orang sesat.” Sedangkan yang satunya berkata, “Sesungguhnya Alloh itu tidak dibatasi oleh suatu tempat.” Padahal mereka berdua adalah sama-sama pengikut mazhab Syafi’i. Maka, jelaskanlah kepada kami tentang akidah Imam Syafi’i rodhiallohu ‘anhu yang kami ikuti dan bagaimanakah akidah yang benar?


Jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

Segala puji bagi Alloh, keyakinan Asy Syafi’i rohimahulloh dan keyakinan para pendahulu Islam seperti Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i, Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan juga menjadi keyakinan para guru yang ditiru seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Abu Sulaiman Ad Darani, Sahl bin Abdullah At Tusturi dan selain mereka adalah sama. Sesungguhnya di antara ulama tersebut dan yang seperti mereka tidak terdapat perselisihan dalam pokok-pokok agama.

Begitu pula Abu Hanifah rohmatullohi ‘alaihi, sesungguhnya keyakinan beliau dalam masalah tauhid, takdir dan perkara lainnya adalah sesuai dengan keyakinan para ulama di atas. Sedangkan keyakinan yang dipegang oleh para ulama itu adalah keyakinan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, itulah keyakinan yang dikatakan oleh Al Kitab dan As Sunnah. Asy Syafi’i mengatakan di bagian awal Muqoddimah Kitab Ar Risalah:

الحمد لله الَّذِي هُوَ كَمَا وصف بِهِ نفسه، وفوق مَا يصفه بِهِ خلقه.

“Segala puji bagi Alloh yang (terpuji) sebagaimana sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Sifat-sifat yang tidak bisa digambarkan oleh makhluknya.”

Dengan demikian beliau rohimahulloh menerangkan bahwa Alloh itu memiliki sifat sebagaimana yang Dia tegaskan di dalam Kitab-Nya dan melalui lisan rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula yang dikatakan oleh Ahmad bin Hambal. Beliau mengatakan: Alloh tidak diberi sifat kecuali dengan yang Dia tetapkan sendiri, atau sifat yang diberikan oleh Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam tanpa disertai tahrif (penyelewengan makna), tanpa takyif (memvisualisasikan), tanpa tamsil (menyerupakan dengan makhluk), tetapi mereka menetapkan nama-nama terbaik dan sifat-sifat luhur yang Dia tetapkan bagi diri-Nya. Mereka yakini bahwasanya:

لَيْسَ كمثله شيء وَهُوَ السميع البصير

“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai dengan-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” baik dalam sifat-sifatNya, Zat-Nya maupun dalam perbuatan-perbuatanNya. Kemudian beliau berkata: Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dalam waktu enam masa kemudian Dia bersemayam di atas Arsy; Dialah yang telah benar-benar berbicara dengan Musa; Dialah yang telah menampakkan diri kepada gunung dan gunung itu pun menjadi hancur terbelah karenanya, tidak ada satu makhluk pun yang memiliki sifat sama persis dengan-Nya, ilmu-Nya tidak sama dengan ilmu siapa pun, kemampuan-Nya tidak sama dengan kemampuan siapa pun, dan kasih sayang-Nya juga tidak sama dengan kasih sayang siapa pun, bersemayam-Nya juga tidak sama dengan bersemayamnya siapa pun, pendengaran dan penglihatan-Nya juga tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan siapa pun. Ucapan-Nya tidak sama dengan ucapan siapa pun, penampakan diri-Nya tidak sebagaimana penampakan siapa pun.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menginformasikan kepada kita di surga itu ada daging, susu, madu, air, sutera dan emas. Dan Ibnu Abbas telah berkata,

لَيْسَ فِي الدُّنْيَا مما فِي الآخرة إِلاَّ الأسماء.

“Tidak ada suatu pun di dunia ini yang ada di akhirat nanti kecuali hanya sama namanya saja.”

Apabila makhluk-makhluk yang gaib ini ternyata tidak sama dengan makhluk-makhluk yang tampak ini -padahal namanya sama- maka Sang Pencipta tentu sangat jauh berbeda dibandingkan dengan makhluk-Nya, inilah perbedaan Pencipta dengan makhluk yang diciptakan, meskipun namanya sama.

Alloh telah menamai diri-Nya Hayyan ‘Aliiman (Maha Hidup, Maha Mengetahui), Samii’an Bashiiran (Maha Mendengar, Maha Melihat), dan nama-Nya yang lain adalah Ra’uuf Rahiim (Maha Lembut, Maha Penyayang); Alloh itu hidup tidak seperti hidup yang dialami oleh makhluk, pengetahuan Alloh tidak seperti pengetahuan makhluk, pendengaran Alloh tidak seperti yang dialami pendengaran makhluk, penglihatan Alloh tidak seperti penglihatan makhluk, kelembutan Alloh tidak seperti kelembutan makhluk, kasih sayang Alloh tidak seperti kasih sayang makhluk.

Nabi bersabda dalam konteks hadits budak perempuan yang cukup populer: “Di mana Alloh?” Budak tersebut menjawab, “(Alloh) di atas langit.” Akan tetapi bukan berarti maknanya Alloh berada di dalam langit, sehingga langit itu membatasi dan meliputi-Nya. Keyakinan seperti ini tidak ada seorang pun ulama salaf dan ulama yang mengatakannya; akan tetapi mereka semuanya bersepakat Alloh berada di atas seluruh langit ciptaan-Nya. Dia bersemayam (tinggi) di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya; tidak terdapat sedikit pun unsur Dzat-Nya di dalam makhluk-Nya, begitu pula, tidak terdapat sedikit pun unsur makhluk-Nya di dalam Dzat-Nya.

Malik bin Anas pernah berkata:

إن الله فَوْقَ السماء، وعلمه فِي كلّ مكان

“Sesungguhnya Alloh berada di atas langit dan ilmu-Nya berada (meliputi) setiap tempat.”

Maka barang siapa yang meyakini Alloh berada di dalam langit dalam artian terbatasi dan terliputi oleh langit dan meyakini Alloh membutuhkan ‘Arsy atau butuh terhadap makhluk lainnya, atau meyakini bersemayamnya Alloh di atas ‘Arsy-Nya sama seperti bersemayamnya makhluk di atas kursinya; maka orang seperti ini adalah sesat, pembuat bid’ah dan jahil (bodoh). Barang siapa yang meyakini kalau di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang disembah, di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang orang-orang sholat dan bersujud kepada-Nya, atau meyakini Muhammad tidak pernah diangkat menghadap Tuhannya, atau meyakini kalau Al Quran tidak diturunkan dari sisi-Nya, maka orang seperti ini adalah Mu’aththil Fir’auni (penolak sifat Alloh dan pengikut Fir’aun), sesat dan pembuat bid’ah.

Ibnu Taimiyah berkata setelah penjelasan yang panjang, Orang yang mengatakan, “Barang siapa tidak meyakini Alloh di atas langit adalah sesat”, jika yang dimaksudkan adalah “barang siapa yang tidak meyakini Alloh itu di dalam lingkup langit sehingga Alloh terbatasi dan diliputi langit” maka perkataannya itu keliru. Sedangkan jika yang dimaksudkan dengan ucapan itu adalah “barang siapa yang tidak meyakini apa yang tercantum di dalam Kitab dan Sunnah serta telah disepakati oleh generasi awal umat ini dan para ulamanya -yaitu Alloh berada di atas langit bersemayam di atas ‘arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya- maka dia benar. Siapa saja yang tidak meyakininya berarti mendustakan Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti selain orang-orang yang beriman. Bahkan sesungguhnya dia telah menolak dan meniadakan Tuhannya; sehingga pada hakikatnya tidak memiliki Tuhan yang disembah, tidak ada Tuhan yang dimintainya, tidak ada Tuhan yang ditujunya.”

Padahal Alloh menciptakan manusia -baik orang Arab maupun non-Arab- yang apabila berdoa maka akan mengarahkan hatinya ke arah atas, bukan ke arah bawah. Oleh karena itu ada orang bijak mengatakan: Tidak pernah ada seorang pun yang menyeru: “Ya Alloh!!” kecuali didapatkan di dalam hatinya -sebelum lisan tergerak- dorongan ke arah atas dan hatinya tidak terdorong ke arah kanan maupun kiri.

Ahlu ta’thil dan ta’wil (penolak dan penyeleweng sifat Alloh) memiliki syubhat dalam hal ini. Mereka benturkan Kitabullah dan Sunnah Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan syubhat ini, mereka tentang kesepakatan salaful ummah dan para ulama. Mereka tentang fitrah yang telah Alloh anugerahkan kepada hamba-hambaNya, mereka tentang sesuatu yang telah terbukti dengan akal sehat. Dalil-dalil ini semua bersepakat bahwa Alloh itu berada di atas makhluk-Nya, tinggi di atasnya. Keyakinan semacam ini Alloh anugerahkan sebagai fitrah yang dimiliki oleh orang-orang tua bahkan anak-anak kecil dan juga diyakini oleh orang badui; sebagaimana Alloh menganugerahkan fitrah berupa pengakuan terhadap adanya (Alloh) Pencipta Yang Maha tinggi. Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih:

كلّ مولود يولد عَلَى الفطرة؛ فأبواه يهودانه، أَوْ ينصّرانه، أَوْ يمجسانه، كَمَا تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هَلْ تحسّون فِيهَا من جدعاء؟

“Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah; Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana seekor binatang melahirkan anak dengan utuh tanpa ada anggota tubuh yang hilang, apakah menurutmu ada yang hilang telinganya (tanpa sebab sejak dari lahirnya)?”

Kemudian Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu berkata: Jika kalian mau bacalah,

فطرة الله الَّتِي فطر النَّاس عَلَيْهَا، لاَ تبديل لخلق الله

“Itulah fitrah Alloh yang manusia diciptakan berada di atasnya, tidak ada penggantian dalam fitrah Alloh.”

Inilah maksud dari perkataan Umar bin Abdul ‘Aziz: “Ikutilah agama orang-orang badui dan anak-anak kecil yang masih asli, yakinilah fitrah yang telah Alloh berikan kepada mereka, karena Alloh menetapkan bahwa fitrah hamba fitrah dan untuk memperkuat fitrah bukan untuk menyimpangkan dan juga bukan untuk mengubahnya.”

Sedangkan musuh-musuh para rosul seperti kaum Jahmiyah Fir’auniyah dan lain-lain itu bermaksud mengganti dan mengubah fitrah yang Alloh berikan, mereka lontarkan berbagai syubhat/kerancuan dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas sehingga banyak orang itu tidak mengerti maksudnya; dan tidak bisa membantah mereka.

Sumber kesesatan mereka adalah penggunaan istilah-istilah yang bersifat global dan tidak bersumber dari Al Quran dan Sunnah Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah pula dikatakan oleh salah seorang ulama kaum muslimin, seperti istilah tahayyuz, jisim (jasad/raga), jihhah (arah) dan lain sebagainya.

Barang siapa yang mengetahui bantahan syubhat mereka hendaklah dia menjelaskannya, namun barang siapa yang tidak mengetahuinya hendaknya tidak berbicara dengan mereka dan janganlah menerima kecuali yang berasal dari Al Kitab dan As Sunnah, sebagaimana yang difirmankan Alloh,

وَإِذَا رأيت الَّذِينَ يخوضون فِي آياتنا فأعرض عنهم حتّى يخوضوا فِي حديثٍ غيره

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Kami maka berpalinglah dari mereka hingga mereka mengganti pembicaraan.”

Barang siapa berbicara tentang Alloh, Nama dan Sifat-Nya dengan pendapat yang bertentangan dengan Al Kitab dan As Sunnah maka dia termasuk orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Alloh secara batil.

Kebanyakan dari mereka itu menisbatkan kepada para ulama kaum muslimin pendapat-pendapat yang tidak pernah mereka katakaberbagai hal yang tidak pernah mereka katakan, kemudian mereka katakan kepada para pengikut imam-imam itu: inilah keyakinan Imam Fulan; oleh karena itu apabila mereka dituntut untuk membuktikannya dengan penukilan yang sah dari para imam niscaya akan terbongkar kedustaannya.

Asy Syafi’i mengatakan, “Hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada Ahli ilmu kalam (baca: ahli filsafat) menurutku adalah dipukuli dengan pelepah kurma dan sandal lalu diarak mengelilingi kabilah-kabilah dan kaum-kaum sambil diumumkan: ‘Inilah balasan/hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan malah menekuni ilmu kalam.’”

Abu Yusuf Al Qadhi berkata, “Barang siapa menuntut ilmu agama dengan belajar ilmu kalam dia akan menjadi zindiq (baca: sesat).”

Ahmad mengatakan “Tidak akan beruntung orang yang menggeluti ilmu kalam.”

Sebagian ulama mengatakan: Kaum mu’aththilah/penolak sifat Alloh itu pada hakikatnya adalah penyembah sesuatu yang tidak ada, sedangkan kaum mumatstsilah/penyerupa sifat Alloh dengan sifat makhluk itu adalah penyembah arca. Mu’aththil itu buta, dan mumatstsil itu rabun; padahal agama Alloh itu berada antara sikap melampaui batas/ghuluw dan sikap meremehkan.

Alloh ta’ala berfirman,

وكذلك جعلناكم أمّة وسطاً

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan.”

Posisi Ahlusunnah di dalam Islam seperti posisi Islam di antara agama-agama.

Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

(Majmu’ Fatawa V/256-261)

Baca SelengkapnyaDi manakah Allah

Senin, 24 Januari 2011

Foto Memalukan Bangsa Indonesia

Foto memalukan ini mulai dipublikasi dibeberapa website internasional. memalukan, foto tersebut seolah menggambarkan anak anak Indonesia saat ini.


Dalam foto tersebut terlihat seorang anak perempuan yang menggunakan pakaian putih merah untuk seorang anak SD yang sedang mengacungkan jari tengah kepada seorang pengemis. entah siapa pengemis tersebut. Bahkan sang anak tersebut juga belum diketahui siapa dan latar belakangnya.

Baca SelengkapnyaFoto Memalukan Bangsa Indonesia

Kamis, 30 Desember 2010

Dunia Ini Milik Orang Kaya

Sulitnya menemukan lapangan pekerjaan untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari kini terasa betul di zaman yang serba modern dan canggih ini. Kesulitan ini terutama dirasakan penuh oleh  mereka yagn masih hidup di bawah garis kemiskinan. Maka ketika ada lowongan pekerjaan, mereka akan segera berebut untuk mendapatkannya. Pemerintah sebetulnya sudah merancang banyak program untuk mengentaskan kemiskinan, misalnya program nasional pemberdayaan masyarakat dan inpres desa  tertinggal, dan masih banyak lagi program yang lainnya.
Namun pada kenyataanya, perubahan tersebut belum memberikan perubahan yang berarti bagi warga miskin. Demikian pula dengan jumlah pengangguran yang kian membengkak sehingga tak heran bangsa kita dinobatkan sebagai negara miskin, karena kondisi ekonomi kita memang masih belum membaik. Untuk memecahkan kebuntuan ini,  rakyat miskin seringkali menempuh berbagai cara demi mendapatkan sesuap nasi.
Sebuah fenomena yang tidak akan terlupakan seumur hidup, yang benar-benar mebuat hati menjadi miris. Anehnya fenomena tersebut dianggap biasa-biasa sajan dan makin hari makin berkembang. Hal ini ditandai dengan munculnya fenomena baru yang memprihatinkan, yakni merajarelanya pengemis dimana-mana. Lalu bagaimana fenomena ini dianggap biasa saja, muncullah pertanyaan, “apakah sudah tidak ada lowongan pekerjaan yang pantas dan lebih baik?” lalu bagaimana peran orang-orang kaya yang memakai mobil mewah dan berbagai kemewahan lainnya?
Maraknya pengemis dimana-mana memberikan gambaran tentang kondisi sebenarnya perekonomian bangsa kita yang katanya banyak sekali sarjana-sarjana ekonomi yang yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Ribuan sarjana lahir dari berbagai universitas pertahunnya. Fenomena ini seakan-akan sudah tidak ada lagi peran atau tidak optimalnya peran dair berbagai kalangan. Hal ini berarti ada yang salah dan harus dipelajari bersama apa yang salah dan apa yang keliru serta bagaimana keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Agama islam sendiri telah mengajarkan bagaimana umat itu dapat sejahtera dan kehidupannya dapat tercukupi, tanpa ada kelaparan yang merajarela. Namun, sudahkah ajaran islam ini dilaksanakan dengan aturan-aturan yang berlaku? Dan seandainya sudah, sejauh manakah pelaksanaannya dalam mengamalkan ajaran islam tersebut?
Cerita di atas merupakan gambaran dari kehidupan kita, dengan kata lain gambaran yang benar-benar nyata. Dari cerita di atas, kita perlu mengkaji ulang tentang pentingnya hidup dalam kebersamaan antara si miskin dan si kaya, antara pimpinan dan bawahan, antara bos dan karyawan, antara teman yang satu dengan yang lainnya agar hubungan ruhaniah terjalin dengan baik. Sebagai intelek muda, seharusnya kita mau dan mampu untuk berperan dengan kemampuan yang kita miliki.
Baca SelengkapnyaDunia Ini Milik Orang Kaya