Tampilkan postingan dengan label keguruan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keguruan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2013

Siapa yang harus datang paling awal dan pulang paling akhir di sekolah?

 

Dalam Manajemen PendidikanManajemen SekolahOrganizational LearningPendidikan JepangSD di JepangSMA di JepangSMK JepangSMP Jepang 

di April 14, 2013 pada 1:15 pm

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan menghadiri pertemuan MGMP IPA SMP se-Kab. Lombok Barat, dan pada kesempatan itu, saya diminta men-share informasi tentang pendidikan sains SMP di Jepang. Dalam kesempatan tersebut, salah satu cerita yang saya sampaikan adalah tentang profesionalisme guru di Jepang dalam bekerja. 

Ada satu slide yang membuat para guru tertawa, yaitu bahwa di Jepang, guru harus datang lebih awal daripada siswanya, dan pulang setelah semua siswa pulang. Lalu, kepala sekolah harus datang paling awal. Beberapa guru sambil tertawa mengatakan, benar…benar…seharusnya begitu, Bu !

Kepala sekolah di Jepang adalah orang pertama yang harus hadir di sekolah, lalu orang kedua yang harus datang atau kadang-kadang mendahului kepala sekolah adalah wakasek. Kalau di Indonesia ada 3 wakasek, maka di Jepang biasanya hanya ada satu wakasek. Di Indonesia ada satpam yang menjaga pintu sekolah, sementara di Jepang tidak ada satpam, dan yang membawa kunci sekolah adalah wakasek atau kepsek. Jadi, otomatis merekalah yang harus datang paling awal.

Mengapa, sekolah Jepang tidak menyewa satpam atau Pak Bon untuk menjaga sekolah? Semuanya tidak perlu, karena tidak ada maling sekolah. Tetapi bukan berarti semua sekolah tidak ada security-nya. Ada juga beberapa sekolah, terutama sekolah swasta yang dilengkapi dengan security, karena ada beberapa kasus penculikan anak pernah terjadi.

Lalu, apa keuntungan datang paling awal di sekolah bagi seorang kepala sekolah? Banyak sekali. Setidaknya dia dapat mengecek kondisi sekolahnya sudah siap dan aman untuk proses belajar siswa. Yang dilakukan oleh kepala sekolah ketika sampai di sekolahnya bukan mengecek tumpukan surat di mejanya, atau menandatanganinya, tetapi berkeliling dari kelas ke kelas, ruang ke ruang, hingga terperiksa semua sudut sekolah, hingga tiba saatnya berdiri di pintu gerbang, mengucapkan, “ohayou gozaimasu” (selamat pagi) kepada satu per satu guru dan anak-anak yang datang.

Lalu, siapa yang harus pulang paling akhir? Lagi-lagi kepala sekolah dan wakaseknya, sebab mereka membawa kunci :-)

Sewaktu menjadi kepala sekolah di Sekolah Bhinneka, sekolah untuk anak-anak Indonesia di Nagoya, yang kami selenggarakan bersama para mahasiswa di Gedung ECIS kampus Nagoya University, saya pun harus menjadi orang yang paling belakang pulang, sekalipun kadang-kadang bukan menjadi orang yang pertama datang, terutama jika kebetulan saya harus masuk kerja hari Sabtu, maka biasanya saya harus berlari dari tempat kerja sambilan ke stasiun supaya sempat mengejar kereta tercepat yang sampai ke kampus. Mengapa harus pulang paling belakang? Sebenarnya bisa saja saya pulang dan menitipkan tugas dan tanggung jawab sebagai kepala sekolah kepada teman-teman guru lainnya. Tetapi, barangkali saya sama dengan para kepala sekolah, kami tidak dengan mudah mempercayai orang lain dan agak merasa malu membebani orang lain.

Tanggung jawab saya sebagai kepala sekolah di sekolah kecil tersebut adalah jika sudah selesai pembelajaran, maka saya harus memastikan semua kursi di tiga kelas yang kami pakai, telah tersusun rapi kembali, tidak ada coretan sedikitpun di papan tulis, tidak ada remah-remah penghapus di meja, sampah di ruangan, tidak ada barang siswa yang tertinggal, lampu dan AC atau heater telah dimatikan sebelum langkah terakhir menutup pintu kelas. Pintu kelas akan terkunci secara otomatis, sehingga jika sudah ditutup, maka kami tidak bisa membukanya dari luar. Selanjutnya yang harus saya lakukan adalah mengepel kamar mandi, mengeringkan wastafel yang basah karena dipakai berwudhu, membersihkan tissue yang berceceran di lantai toilet. Dan karena ruang kelas ada di lantai dua, dan para orang tua berkumpul di lantai satu, maka saya perlu memeriksa kebersihan toilet di dua lantai tersebut. Kalau suatu kali ada siswa yang berulang tahun,  atau ada perayaan lain, dan kami memakai aula di lantai satu, maka tugas saya bertambah yaitu mengepel lantai. Tentu saja saya tidak bekerja sendirian, tetapi beberapa orang tua siswa membantu. Namun, bagaimanapun juga, yang mengerti dan merasa paling bertanggung jawab pada tugas tersebut adalah kepala sekolah.

Pernah sekali, saya tidak bisa masuk, dan ternyata rentetan tugas yang biasa saya kerjakan, tidak ada yang menyelesaikannya. Akibatnya, ada barang tercecer, dan pernah pula kami mendapatkan teguran dari pengelola gedung karena lampu tidak dimatikan, padahal kami bersekolah hanya di hari Sabtu, sehingga lampu terus menyala di hari Minggu, dan baru dimatikan pada hari Senin. Karena keteledoran seperti itu, saya harus siap-siap menghadap kepada pimpinan gedung, dan mendengarkan pesan-pesan yang rasanya sudah saya hafal, karena seringnya saya dengar dan baca di surat perjanjian.

Demikianlah, karena tanggung jawab, kepala sekolah datang paling awal dan pulang paling belakangan. Kepala sekolah sebenarnya hanyalah pelayan para siswa dan orang tua.

Sumber : http://murniramli.wordpress.com/2013/04/14/siapa-yang-harus-datang-paling-awal-dan-pulang-paling-akhir-di-sekolah/

 

Baca SelengkapnyaSiapa yang harus datang paling awal dan pulang paling akhir di sekolah?

Jumat, 19 April 2013

MENGAJAR DALAM KETERBATASAN, KISAH GURU SM3T UNY

Submitted by nurhadi on Mon, 2013-03-11 18:49

Pagi itu, masih melewati deburan ombak yang membawa sang mentari mengalun naik, dari Gunung Inerie, sinarnya memancar. Pukul 07.00 WIT sudah terasa panas. Bergairah kali ini ia akan menemui kelas. Berharap pengalaman pertamanya memberikan tapak yang tak mudah terlupa. Tibalah di depan gapura sekolah. Tulisan SMP Negeri 3 Aimere menempel di pintu utama sekolah. Bangunan SMP itu adalah bangunan yang dibuat atas kerjasama negara Australia dan Indonesia lewat program block grant.

 

Bangunannya rapi dan cukup bersih dengan lantai keramik. Berada di tanjakan desa Keligejo dan lebih tepatnya di dukuh Nunumeo. Kalimat selamat pagi, silahkan duduk, bagaimana kabar kalian, siapa yang tidak hadir hari ini, menjadi kalimat yang harus fasih dikatakan setiap harinya. Dipandangi wajah muridnya satu persatu. Tatapan murid-muridnya tak beralih, ada yang senyum, ada pula yang terlalu fokus melihat, dan ada yang berbicara lirih. Inilah kesan pertama Tri Wulan Rahayu, guru SM3T Universitas Negeri Yogyakarta yang ditempatkan di SMP Negeri 3 Aimere, Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur.

SM-3T atau  Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal yang merupakan bagian dari program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia yang diprakarsai oleh Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam program ini, para sarjana pendidikan direkrut, dipersiapkan, dan diterjunkan di wilayah pengabdian. Selain mengajar, mereka juga melakukan kegiatan kemasyarakatan.

“Di sini harus keras, Ibu. Kalau tidak anak-anak akan seenaknya sendiri. Anak-anak di sini agak susah, kemampuan menangkapnya rendah, otak-otak lambat. Saya beritahu saja, Ibu,” kata Albertus Aedisius Mogo, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Aimere. Ketika gadis desa Karang Nongko, Jarum, Bayat, Klaten tersebut memperkenalkan diri dan menyebut alamat rumahnya, banyak murid yang heran mendengar alamat itu.

“Akhirnya saya menyebut bahwa rumah saya dekat dengan rumah Pak Jokowi,” kata Tri Wulan Rahayu. “Memang hanya beberapa siswa yang mengenal mantan Walikota Solo tersebut, maklum karena hanya beberapa tempat yang telah terjamah listrik, sedang selebihnya banyak yang hanya bercahayakan pelita. Tempat saya mengajar belum ada listrik.”

Kemarau panjang membuat desa ini miskin air, pantas bila guru-guru mengeluh mencium bau tidak sedap ketika mengajar, karena ada beberapa murid yang tidak mandi. Beberapa rumah adat dan rumah permanen beratapkan seng berdiri, makam dengan nisan keramik mematung di samping kanan dan kiri rumah . Kandang-kandang babi dengan atap daun ilalang dan lontar juga turut menghiasi pekarangan rumah Desa Keligejo. Tri Wulan Rahayu tinggal di sini selama setahun bersama dua guru SM3T yang lain.

Alumni Jurusan Pendidikan Biologi ini memancing muridnya di kelas VIII dengan pertanyaan tentang cita-cita mereka. “Ketika saya katakan tentang cita-cita, mimik murid-murid berubah,” ucap Tri Wulan Rahayu. “Memang saya sedikit memaksa mereka untuk menimbulkan ke permukaan tentang impian mereka di masa depan.”

Dan ternyata beberapa murid perempuan ingin menjadi perawat dan murid paling pintar, Fani, bercita-cita menjadi guru, sedang beberapa murid laki-laki selain ingin menjadi tentara juga ada yang ingin menjadi pemain bola seperti idola mereka masing-masing. Ada sebuah cita-cita yang menarik yang ditemui Tri Wulan Rahayu ketika memasuki kelas VII A. Fandrianus Bengu, yang biasa dipanggil teman-temannya dengan nama Fandi itu dengan lugas dan lantang mengatakan cita-citanya ingin menjadi sopir otto.

Otto adalah angkutan umum di Flores yang merupakan truk diberi atap serta kursi yang menyerupai bis, lazim juga disebut bis kayu. Ketika Tri Wulan Rahayu bertanya mengapa, oleh Fandi dijawab ingin keliling Flores. Padahal medan lintasan Flores adalah jalan yang sangat curam, sempit, bertebing, dan banyak jurang serta berkelok-kelok. Memang mereka adalah anak-anak kampung dengan segala keterbatasannya.

Di kala anak-anak yang lain telah mengenal gadget dan segala kemewahan teknologi, anak-anak Aimere ini baru melihat tiang listrik yang baru ditanam di tanah. Walaupun begitu, mereka tak patah arang, pikiran mereka begitu membentang luas dan mendalam. Cita-cita mereka tak kalah besar dan tinggi dengan anak-anak Jawa yang punya segalanya.

“Walaupun hanya belajar dengan pelita, kita tetap belajar kok, Ibu. Seperti Ibu bilang, kita harus tetap belajar, membaca, dan menulis, kan?,” ucap Yano, salah satu murid sepulang sekolah. “Teruslah bersekolah, teruslah belajar, teruslah menulis, agar kalian nanti menggapai sebuah cita yang kalian ucapkan tadi. Aimere akan sangat bangga, mempunyai guru, polwan, polisi, perawat, bidan, atau tentara seperti kalian nanti,” tutup Tri Wulan Rahayu. (Dedy)

Sumber : http://www.uny.ac.id/berita/mengajar-dalam-keterbatasan-kisah-guru-sm3t-uny.html

Baca SelengkapnyaMENGAJAR DALAM KETERBATASAN, KISAH GURU SM3T UNY

Kamis, 14 Maret 2013

Kurikulum 2013 Ditelanjangi di ITB

Penulis : Didit Putra Erlangga Rahardjo | Rabu, 13 Maret 2013 | 19:40 WIB


Kompas/Didit Putra ErlanggaSuasana diskusi terbuka kurikulum 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung, Rabu (13/3/2013).

BANDUNG, KOMPAS.com - Sebuah diskusi terbuka yang digelar oleh majelis guru besar Institut Teknologi Bandung khusus membahas mengenai rencana pemberlakuan kurikulum 2013 oleh pemerintah, Rabu (13/3/2013). Disana, substansi kurikulum dipaparkan untuk ditunjukkan kelemahan pada substansi, redaksional maupun filosofinya.

Diskusi berlangsung di Balai Pertemuan Ilmiah ITB, dihadiri oleh Ketua MGB ITB, Harijono Tjokronegoro, profesor emeritus Universitas Negeri Jakarta, Henry Alex Rudolf Tilaar, guru besar ilmu matematika ITB, Iwan Pranoto, serta guru besar ITB Imam Buchori Zainuddin. Diskusi dilangsungkan dalam dua sesi dengan sesi tanya jawab di antaranya.

Imam Buchori mengungkapkan bahwa kurikulum 2013 memiliki pertentangan makna, bahkan dalam penjelasannya itu sendiri. Alasan untuk mengubah kurikulum lebih didorong oleh masalah yang dihadapi generasi muda seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, maupun plagiarisme, sedangkan hal itu tidak terkait langsung dengan kurikulum.

Kompetensi yang diharapkan oleh kurikulum 2013 adalah siswa yang mampu berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, mempertimbangkan segi moral suatu masalah, maupun menjadi warga negara yang efektif.

"Tidak ada yang menyebut tentang pentingnya kemampuan untuk menemukan atau inovasi, kemampuan mencipta, berfikir sinergis, maupun kemampuan melihat peluang," kata Imam.

Proses pembelajaran berpusat pada peserta didik atau student centered active learning juga dikritk Imam. Meski konsep tersebut sudah benar, penjabaran selanjutnya ternyata bertolak belakang. Misalnya siswa sudah dibebani tuntutan berbagai macam kompetensi. Pemerintah yang memiliki kendali dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum justru bertentangan dengan azas meritokrasi atau mendasarkan diri pada potensi peserta didik.

Dari segi redaksional, Imam justru menemukan banyak kejanggalan dalam logika berbahasa di dalam dokumen kurikulum. Dia menemukan kalimat mengenai pertimbangan dalam pengembangan kurikulum yakni "Perlunya merumuskan kurikulum yang dapat menunjukkan pentingnya pengetahuan dan memastikan bahwa peserta didik akan peka atas kebutuhannya untuk berpengetahuan dan pengembangannya. Untuk itu kurikulum perlu disusun dengan menggunakan pendekatan sains sebagai ciri utama proses pembelajaran dan penilaian dalam pembentukan kompetensi."

"Komentar saya, kalimatnya rasional, antisipatif, dan menginspirasi. Tapi bila didalami dalam implementasi kurikulumnya banyak yang bertentangan," kata Imam.

Terkait kompetensi inti dan kompetensi dasar, Imam banyak menemui penggabungan unsur agama dengan sains yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Dia menyebut contoh untuk kelas X mata pelajaran Bahasa Indonesia, kompetensi intinya adalah menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Dalam kompetensi dasar poin pertama adalah mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa.

Contoh-contoh lainnya juga diungkapkan oleh Iwan Pranoto. Dalam mata pelajaran Kimia untuk kelas X, dia mendapati kalimat penjelasan kompetensi dasar yakni "menyadari keteraturan dan kompleksitas konfigurasi elektron dalam atom sebagai wujud kebesaran Tuhan YME."

"Bila dicampur adukkan dengan Tuhan, naskah kurikulum seolah tidak bisa didebat karena nilainya menjadi suci," ujar Iwan.

Tilaar bahkan menyebut bahwa penyusunan kurikulum 2013 ternyata tidak tercantum dalam penjabaran rencana strategis pendidikan dasar 2009-2014. Untuk itu, dia meminta agar rencana pemberlakuan kurikulum ditunda dulu sampai betul-betul matang.

Baca SelengkapnyaKurikulum 2013 Ditelanjangi di ITB

Senin, 11 Maret 2013

Guru Mbeling

Oleh SIDHARTA SUSILA

 

 KOMPAS.com - Bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kurikulum 2013 sudah beres. Akan tetapi, bagi sejumlah pengamat dan kelompok peduli pendidikan, kurikulum ini masih perlu dikritisi serta disempurnakan. Beberapa di antaranya bahkan secara tegas menolak.

 

 

Siapkah para guru menerapkan kurikulum ini? Rasanya kita butuh guru-guru mbeling ketika menerapkan Kurikulum 2013.

 

Istilah mbeling yang berasal dari bahasa Jawa menyiratkan sifat nakal, suka memberontak terhadap kemapanan, dan sering kali melakukan tindakan di luar kebiasaan. Namun, mbeling berbeda dengan asal-asalan. Pada mbeling terkandung unsur kesadaran, nalar, serta tanggung jawab atas ekspresi mbelingnya. Mbeling dipilih demi memperjuangkan hal-hal yang prinsip. Pada mbeling sesungguhnya mensyaratkan kesadaran, kecerdasan, otentisitas, tanggung jawab, serta keberanian.

 

Sikap mbeling sering kali dipilih bukan demi kepentingan diri semata. Sikap mbeling sering kali justru dipilih untuk memperjuangkan dan merawat kehidupan. Karena itu, mbeling sering kali menjadi ekspresi panggilan jiwa untuk memperjuangkan prinsip dan merawat kehidupan.

 

Guru mbeling adalah guru yang sadar akan panggilan jiwanya sebagai pendidik. Guru mbeling sadar akan hal-hal yang membatasi kreativitas dan perjuangan mendidik dengan benar serta bertanggung jawab. Demi prinsip pendidikan, martabat, dan panggilan jiwanya sebagai pendidik, ia berani bersusah-susah dan memperjuangkan pembelajaran di luar kebiasaan.

 

Dunia pendidikan bertaburan guru mbeling. Dari merekalah kini kita bisa beroleh inspirasi serta terobosan-terobosan pembelajaran. Cara didik Anne Sullivan terhadap Helen Keller adalah salah satu contohnya. Kembelingan Anne Sullivan tidak hanya menyelamatkan Helen Keller. Mereka melahirkan metode pembelajaran yang mencerahkan nasib berjuta anak buta dan tuli.

 

Guru Erin Gruwell pada film Freedom Writers adalah contoh lain guru mbeling. Sikapnya yang pantang menyerah terhadap kelasnya yang urakan dan mencekam, serta pesimisme rekan guru di sekolahnya, membuat tubuhnya dilimpahi adrenalin. Ekspresi mbelingnya mewujud dalam keberanian menentukan formasi tempat duduk para muridnya, membuat dinamika kelompok untuk mencairkan ketegangan, juga kreativitasnya menuntun para murid untuk mencairkan beban hidup lewat penulisan buku harian. Buah laku mbeling Erin Gruwel adalah solidaritas dan gairah belajar para muridnya.

 

Ada juga Mr Sosaku Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen tempat Totto-chan belajar (pada novel Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela). Sikap mbelingnya menciptakan kesempatan belajar bagi banyak anak ”aneh” yang karena ”keanehannya” tak punya tempat belajar di sekolah ”normal”. Keberanian Mr Kobayashi meramu model pembelajaran yang tidak biasa pada masa itu adalah ekspresi sikapmbelingnya yang nyata. Di Indonesia, pendidik mbeling pernah hadir pada sosok Romo Mangun dengan SD Mangunannya itu.

 

Konteks Kurikulum 2013

 

Guru mbeling nan unik lainnya adalah Wei Minzhi pada film Not One Less. Ia guru pocokan. Usianya 13 tahun. Guru Wei akhirnya mbeling karena harus mencari Zhang Huike, murid bengal yang terpaksa harus ke kota demi mencari uang untuk pengobatan ibunya. Seperti digagas Emmanuel Levinas, perlahan, tahap demi tahap, nurani guru Wei terkoyak oleh paparan duka muridnya. Koyakan nurani yang serentak menuntut tanggung jawab moral itulah yang menjadikan guru Wei mbeling.

 

Opini mengenai Kurikulum 2013 yang telah banyak dibahas di Kompas mestinya memancing sikapmbeling para guru di negeri ini. Sejumlah alasan mestinya mengoyak nurani pendidik dan serentak merasa dituntut ikut bertanggung jawab. Sebutlah, misalnya, analisis Kurikulum 2013 yang absurd, tidak menampung keinginan tahu, pembentukan sikap kritis, pendangkalan materi, kelemahan pembelajaran bahasa, hingga kurang matangnya program pelatihan (Kompas 22/2; 24/3).

 

Memang tidak mudah membuat kurikulum yang sempurna. Karena itu, seperti kata Anita Lie (26/2), hendaklah guru sadar bahwa ia harus menjadi sopir yang baik saat mengemudikan Kurikulum 2013 kelak. Hanya sopir yang baik yang dapat membawa penumpang (baca: murid) sampai di tempat yang benar dengan selamat.

 

Sesungguhnya guru yang berperan sebagai sopir yang baik bagi kurikulum yang masih ditemukan banyak kelemahan meniscayakan keberanian, kecerdasan, tanggung jawab moral, bahkan kepiawaian mengemudikan dengan cara-cara yang tidak biasa. Itu artinya, demi suksesnya Kurikulum 2013 guru negeri ini wajib mbeling.

 

Beranikah para guru kita bersikap mbeling dalam mengemudikan Kurikulum 2013? Improvisasi dan ragam pembelajaran mbeling sering kali tak mudah dilakukan di negeri ini. Salah satu hadangan berat adalah ketika pada akhirnya harus menjalani perhelatan ujian nasional. Pembelajaran mbeling, meski demi kepentingan anak didik, akhirnya menjadi pertaruhan.

 

Masih berani menjadi guru mbeling?

 

 

SIDHARTA SUSILA Pendidik: Tinggal di Muntilan, Magelang

 

sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2013/03/07/10034510/Guru.Mbeling

Baca SelengkapnyaGuru Mbeling