Kamis, 02 Mei 2013
Hardiknas Kelabu
Minggu, 28 April 2013
Dari Balik Balkon Rakyat
oleh Ifa H. Misbach (Catatan) pada 28 April 2013 pukul 18:36
Reportase kali ini bukan bahasa media, ini bahasa ala diriku saja sebagai rakyat yang terserang gelisah.
Pada Jumat, 26 April 2013 jam 14.45 s.d. 21.00 wib, saya dengan bu Retno dan beberapa kawan dari aliansi revolusi pendidikan, serta beberapa guru FSGI berkesempatan mengikuti jalannya raker antara Mendikbud dan Komisi X DPR RI membahas kacaunya penyelanggaraan UN 2013.
Setelah raker di buka oleh Ketua Komisi X (Partai Demokrat), kemudian Medikbud dipersilahkan menjelaskan “duduk persoalan” kacau balaunya UN. Mendikbud didampingi jajarannya secara lengkap, yang bu Retno hitung jumlahnya mencapai 31 orang. Selain seluruh eselon 1, Mendikbud juga didamping BSNP dan beberapa rektor.
Setelah Mendikbud selesai menjelaskan, dilanjutkan dengan para anggota komisi X bergantian berbicara. Dalam rapat kerja tersebut, komisi X DPR mendesak Kemendikbud untuk mengevaluasi seluruh proses penyelenggaraan ujian nasional mulai dari tujuan hingga prosedur teknis pelaksanaan.
Mayoritas anggota komisi X menyorot tajam kinerja Mendikbud dan jajarannya.
Selama saya menyimak rapat dengar pendapat antara jajaran kemendikbud dengan anggota komisi X, saya harus memberikan apresiasi kepada kegigihan setiap anggota komisi X yang sudah menyerang kemendikbud dari segala sisi, dari mulai:
- Aspek2 hukum penyelenggaraan UN yang terlanggar. Jika pemerintah tetap menggunakan hasil UN diijadikan penentu kelulusan dan tiket masuk PTN maka kemendikbud akan digugat secara hukum karena UN tidak akuntabel dan tidak profesional serta melanggar rasa keadilan masyarakat.
- Cacatnya pelaksanaan teknis operasional yang berdampak pada hasil validitas yang meragukan.
- Mendesak kemendikbud mengambil langkah pertanggungjawaban moral untuk menyatakan bahwa hasil UN 2013 tidak sah secara hukum untuk dijadikan tiket masuk ke PTN.
- Mendesak ke depannya UN dilakukan secara rayonisasi/per-wilayah agar lebih efisien. Karena faktanya UN sangat menghamburkan biaya negara. Dari mulai pengerahan awak Kepolisian, TNI AD, AU, AL dikerahkan. Biaya darimana menggunakan pesawat Foker, Boeing 737, dll.
- Keluhan banyak sekolah mengeluarkan biaya fotokopi+bayar pengawas lebih dari 50 juta/sekolah. Sedangkan dana dari kemendikbud hanya 9 juta per sekolah
- Azas keadilan yang terlanggar pada 11 provinsi.
- Pengabaian dan kelalaian kemendikbud terhadap dampak psikologis jutaan siswa yang dibiarkan menunggu berhari-hari menunggu tanpa kepastian. Bahkan kemendikbud memaksakan 1 sekolah melakukan UN pada jam 6 sore (secara psikologis itu jam penurunan konsentrasi terendah).
- Mendesak pak Nuh mengambil sikap mundur sebagai pertanggungjawaban moral tanpa disuruh SBY
- Mendesak pak Nuh mengambil momentum mengevaluasi total kinerja struktur organisasi kemendikbud dan BNSP.
- Pengaduan bentuk kecurangan yang dilaporkan masyarakat tidak pernah ditindaklanjuti secara tegas oleh kemendikbud.
- Mempertanyakan mengapa 8 standar sebagai putusan MA yang ada di PP 19 tidak dipenuhi terlebih dulu.
- Mempertanyakan kenapa PT Galia Printing terpilih sbg pemenang tender yang jelas2 bukan perusahaan yang memiliki security printing.
- Ketidakadilan bagi siswa-siswa di pelosok misalnya NTT dan Papua yang tidak pernah mengenal objek-objek yang ada dalam soal-soal UN, tetapi objek2 itu familiar buat anak-anak di pulau Jawa.
- Kualitas lembar jawaban di bawah 70 gram (para anggota dewan menebak mungkin kelas kertas 60 gr, atau semacam kertas singkong) yang anggota dewan mencoba langsung jika menghapus sobek atau jawabannya blobor kemana2 sulit dibaca.
- Bagaimana dengan soal yang tertukar antara 1 mata pelajaran dengan pelajaran lain/soal kurang/soal ditokopi, bahkan ada 1 sekolah yang di pelosok tidak punya mesin fotokopi sehingga 1 soal digilir untuk 25 siswa dalam 1 kelas. Dan itu merepotkan pengawas yang memindahkan jawaban ke lembar jawaban resmi.
- Mendesak fungsi UN hanya sebagai fungsi pemetaan, bukan penentu kelulusan siswa. Oleh karena itu, kembalikan hak guru dan satuan pendidikan yang berhak untuk melakukan penilaian pada siswa berdasarkan UU Sisdiknas, bukan oleh pihak pemerintah yang tidak tahu perilaku siswa sehari2 di kelas.
- Sikap pak Nuh yang menyakiti hati jutaan rakyat Indonesia yang sedang galau dengan kekacauan UN, malah melakukan lelucon tidak lucu berjalan mundur sambil cengengesan di depan media.
- Yang LUPUT ditanyakan anggota komisi X adalah: kalo ya UN buat pemetaan mana hasil petanya dari thn 2004 sampai 2012? Itu tidak ada satu pun yang menanyakan.
Respon dari kemendikbud (tidak dijawab semua) :
- Intinya para rektor yang dibawa pak Nuh menyampaikan bahwa hasil validitas tidak ada masalah karena sudah dilakukan manual meskipun kualitas kertas jawaban yang sulit dibaca/mudah sobek, karena mereka melakukan manual.
- Rektor ITB yang diharapkan bersikap tegas, hanya menjelaskan teknis hasil UN dan komposisi nilai raport untuk masuk jalur SMPTN
- Menyatakan pada anggota komisi X bahwa hasil kelulusan UN akan tepat waktu karena mereka bekerja 24 jam
- pak Nuh bilang tidak bisa memutuskan bahwa hasil UN 2013 tidak sah, karena toh di 22 provinsi baek2 saja (hiks,...kita harus berjuang keras).
- Pak Nuh menanggapi langkah mundur adalah yang berhak mencopot dirinya dalam jabatan mendikbud adalah presiden. (ini...sinyal pak Nuh tidak akan mengambil langkah mundur layaknya para pejabat Jepang yang malu secara moral jika melakukan kesalahan pada rakyat)
Intinya jawaban jajaran pak Nuh tidak menyakinkan dan terbata-bata, sehingga itu yang dipertanyakan sejumlah anggota komisi X, kok para profesor yang dibawa pak Nuh seperti tidak memahami dan ga pernah melakukan penelitian terstandar yang memahami validitas, sepertinya para profesor ini baek-baek saja padahal sudah tau administrasi pengukuran yang prosedurnya tidak sama akan menghasilkan bias yang besar dan itu tidak adil bagi kondisi jutaan siswa yang tidak sama. Makanya keluar perkataan seorang anggota komisi X mengapa para profesor ini tidak ada yang melakukan PEMBERONTAKAN INTELEKTUAL dan masih pasang badan utk UN?
Saya yakin para rektor dan profesor lainnya di luar yang dibawa pak Nuh, pasti akan gerah melihat koleganya seperti badut-badut intelektual yang TIDAK berani mengkritisi pak Nuh dan tidak berani menolak hasil UN yang sudah cacat dari segala aspek. Karena apa yang disampaikan rektor2 yang dibawa pak Nuh sangat menyedihkan. Malu rasanya sebagai orang akademisi menyaksikan argumen mereka yang lemah dan malah balik ditertawakan oleh para anggota komisi X lainya. Perlu ada gerakan para rektor dan profesor untuk membersihkan kredibilitas para rektor lainnya di luar yang dibawa pak Nuh jumat kemarin, karena saya masih yakin bahwa masih banyak para profesor dan rektor yang masih 'waras' dan lebih banyak lagi yang memiliki pemikiran inteletual yang berbobot.
Sejumlah kawan lain skeptis dengan sikap komisi X, apakah mereka memang sedang benar-benar berjuang untuk kepentingan rakyat atau hanya untuk menaikan nilai tawar mereka?
Tetapi apa yang mata saya lihat adalah 100% sikap anggota komisi X seluruhnya menentang hasil UN tanpa kecuali. Yang berbeda hanya derajat kegalakannya saja dari yang sangat galak sampai satu bapak anggota dewan yang paling lembut berpantun mengutip petuah nasihat bijak Semar "ora rumaso biso" untuk menyindir pak Nuh. Seorang ibu anggota dewan yang diberikan kesempatan pertama menyampaikan pendapat menyampaikan pendapat dengan gayanya sangat unik karena mengkombinasikan rasa sayang ibu, kemarahan masyarakat, dan usulan konkrit ke depan agar UN dilakukan sistem rayonisasi.
Saya tidak tahu apakah kesamaan sikap ini karena semua anggota komisi X sudah menyaksikan sendiri kekacauan UN dan sebagian besar mereka turun berkeliling ke daerah-daerah. Jadi mereka mendengarkan keluhan langsung para siswa, guru, pengawas dan para kepala daerah.
Tapi saya bisa paham sikap skeptis kawan-kawan saya yang lain yang pernah bertemu langsung dengan komisi X, karena mereka kan para politisi. Who knows? di balik kegarangan mereka.
Saya bener2 migrain semaleman pulang dari DPR, gemas, sedih melihat badut2 akademisi intelektual ini, rasanya campur aduk, biarin deh disebut lebay juga. Rasanya pengen treak di kuping pak Nuh bahwa keberhasilan sistem pendidikan kita hanya mampu menghasilkan kebanyakan akademisi (yang mungkin pintar) tetapi tidak memiliki keberanian menyatakan TIDAK terhadap kemungkaran yang sudah jelas ada bukti dan fakta di depan mata.
Tapi saya masih berusaha menyisakan ruang 'hope' di kepala saya, karena saya selalu yakin kelak anak-anak generasi penerus kita akan mencatat apa yang kita perjuangkan tidak akan berakhir sia-sia meskipun resultnya ga bisa langsung instant seperti yang kita harapkan. Karena momentum pergerakan pelajar yang marah dengan UN juga sudah bergerak menggalang aksi untuk hari pendidikan 2 Mei, akan bergabung dengan guru dan buruh. Kita tidak tahu manakala Tuhan membuka momentum perubahan dengan cepat. Yang saya tahu Tuhan hanya akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri yang merubah nasib dengan tangannya sendiri. Dan perubahan itu ada pada keberanian SELURUH guru di tanah air. Saat ini yang hanya berani adalah segelintir guru saja yang saling menguatkan karena kurangnya dukungan dari rekan-rekannya sendiri.
Saya bukan guru. Saya hanyalah orang yang tersentuh nurani dengan keberanian dan kegigihan dari rekan-rekan guru pemberani yang masih segelintir jumlahnya.
Selamat Menyambut Hari Pendidikan Nasional Untuk Para Sahabat Guru Tercinta.
Jangan pernah mengutuk kegelapan meskipun jalan mewujudkan sistem pendidikan yang adil penuh jalan terjal.
Jangan menyerah untuk ditindas.
-Catatan kegelisahan di balik balkon rakyat-
Jumat, 29 April 2013
Sumber : https://www.facebook.com/groups/igipusat/permalink/10152348099131393/
Unas Dikebiri Guru Sendiri
Catatan Eko Prasetyo
penulis buku Apa Yang Berbeda dari Guru Hebat
Mengejutkan. Betapa tidak, saya mendapat laporan dari istri soal penyimpangan saat pelaksanaan ujian nasional (unas) SMP pekan lalu. Ia menuturkan pengalaman rekannya saat berkunjung ke dinas pendidikan setempat. Sang rekan membaca laporan adanya dugaan kecurangan unas SMP.
Di sebuah SMP negeri di kota saya tersebut, ada kejanggalan yang ditemukan oleh pengawas ruang ujian. Sang pengawas mendapati kejanggalan dalam daftar hadir peserta unas. Di balik daftar hadir itu, ternyata ada bocoran jawaban soal unas. Busyet!
Kontan, petugas pengawas yang merupakan kolega istri saya tadi mengambil lembar bocoran jawaban unas yang berada di balik daftar hadir tersebut. Sebagian guru SMP itu menunjukkan raut muka kecewa. Mereka tidak puas dengan tindakan tegas si pengawas.
Hal ini kemudian dilaporkan ke dinas pendidikan setempat. Yang menyedihkan, saya mendapat kabar bahwa guru-guru SMP tersebut sampai murka. Mereka tak sudi lagi ada pengawas yang dinilai sok suci dan sok pahlawan seperti itu. Mereka bahkan menyebutkan nama beberapa sekolah yang tidak akan mereka terima gurunya sebagai pengawas pada unas-unas mendatang. Gila! Sungguh gila!
Nama kolega istri itu ada pada saya. Termasuk nama sekolah yang mengirimkan pengawas tegas tadi. Ini pengalaman yang amat menyedihkan. Unas berkali-kali dikebiri oleh para pendidiknya, namun penguasa (baca: Kemendikbud) justru menampik hal itu di berbagai media. Alasannya, belum ada laporan resmi soal dugaan kecurangan unas. Sangat mengherankan.
Tentu saja ini bukan pengalaman pertama bagi saya soal kasus pengebirian kejujuran ketika pelaksanaan unas. Saya pernah mewawancarai salah satu guru asal sebuah kota di Jawa Barat dan ini terdokumentasi dalam salah satu buku saya. Ia dimusuhi kepala sekolah dan para rekannya karena tidak mau berkompromi membocorkan unas. Guru sok suci adalah julukan yang dihadiahkan kepadanya oleh mereka.
Tentu saja segala olok-olokan -yang sebenarnya lebih pantas diberikan untuk para pelacur di dunia pendidikan itu- sangat menyakitkan. Guru senior ini nyaris depresi. Batinnya tercabik-cabik. Ia yang sering menyuarakan pentingnya kejujuran justru menjadi pesakitan karena berbuat jujur.
Ujian nasional benar-benar horor. Bukan hanya bagi siswa, tapi juga pendidik yang teguh memegang kejujuran. Sedemikian horornya, kita bakal mudah menemui orang-orang yang berubah menjadi sangat alim menjelang perhelatan akbar unas. Misalnya, ikut istighotsah padahal salat wajib bisa jadi masih bolong-bolong. Yang lebih parah: pensil 2B dicelupkan ke air Ponari supaya lebih jos saat ikut unas. Lha mana bisa kalau si murid tidak sinau alias belajar keras? Akal sehat mendadak hilang ketika unas.
Kota Delta, 27 April 2013
Sumber : http://mustprast.wordpress.com/2013/04/27/unas-dikebiri-guru-sendiri/
Jumat, 26 April 2013
Titik Nadir Ujian Nasional
Tertunda di 11 provinsi dan sejumlah masalah lainnya, memperlihatkan. Ujian Nasional tahun ini semakin buruk. Didesak segera dihapuskan.
Ratusan pelajar berteriak sambil memegang poster dan bendera merah putih saat melakukan aksi protes soal ujian nasional di Jakarta. Suara Lody Paat tiba-tiba meninggi . Ketua Koalisi Pendidikan itu tak habis pikir penyelenggaraan ujian nasional (UN) tahun ini sangat amburadul. “Kita menuntut Menteri M Nuh dan Wakilnya Musliar Kasim mundur,” ujar Lody saat jumpa pers di kantor Indonesia Corruption Watch, Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Kamis pekan lalu. Lody menilai keterlambatan UN di 11 provinsi tak sepenuhnya kesalahan percetakan. Kementerian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud) ikut berperan serta dalam carut marutnya persoalan ini. “Per-cetakan memang salah, tapi kemendikbud harus dievaluasi. Ini proyek tanpa parameter yang jelas” Lody menambahkan. Seharusnya UN untuk tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) berlangsung se-rentak di seluruh Indonesia pada Senin-Kamis pekan lalu. Tapi di 11 provinsi di wilayah tengah Indonesia terpaksa tertunda karena logistik soal belum diterima. Keterlambatan ini merugikan 5.000 lebih siswa yang ada di Sulawesi Selatan, Bali, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Satria Dharma menduga, terlambatnya naskah soal UN akibat 20 variasi jenis soal yang disiapkan kemendikbud. “Setelah siswa secara psikologis siap tanding, akhirnya mental siswa merosot setelah ditunda. Ini bumerang bagi kemendikbud,” ujar Satria kepada Prioritas, Rabu pekan lalu. Tertunda tiga hari, UN akhir-nya berhasil dilangsungkan di 11 provinsi sejak Kamis pekan lalu. Namun bukan berarti persoal-an selesai. Lagi-lagi sejumlah daerah mengalami penundaan. Alasannya, tidak semua sekolah menerima naskah soal secara lengkap. Di Kalimantan Timur, Walikota Samarinda misalnya, terpaksa memutuskan UN diundur hingga Jumat karena soal yang diterima baru sebagian. Hal yang sama juga terjadi di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 31 sekolah menengah atas dan 19 sekolah menengah kejuruan batal menyelenggarakan UN pada Kamis pekan lalu. Selain itu, daerah yang sudah menggelar UN sesuai jadwal, juga didera berbagai masalah seperti naskah soal kurang, tertukar, dan lembar jawaban yang rusak. Hasil pantauan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), di sejumlah provinsi seperti Riau, Jawa Timur dan Sumatera Utara, naskah ujian terlambat berkisar 1-5 jam. Bahkan, akibat kekurangan naskah soal dan lembar jawab ujian nasional (LJUN), pihak pelaksana di daerah sampai memperbanyak sendiri dengan mesin fotokopi. Sekretaris Jenderal FSGI Retno Listyarti mengatakan, dengan memfotokopi sendiri peluang soal bocor sangat besar. Bukan hanya itu saja, dengan menggunakan LJUN fotokopian, siswa juga khawatir hasil ujiannya tak bisa dipindai komputer dengan benar. “Kalau difotokopi soal dan lembar jawaban, komputer akan menolak karenabarcode yang sama terlalu banyak,” ujar Retno kepada Prioritas, Selasa pekan lalu. Bahkan Retno menerima laporan, di SMK Yusha di Jakarta Utara, Koja, DKI Jakarta, di dalam amplop soal bahasa Inggris terdapat dua buah soal Matematika. “Padahal Matematika baru diujikan esoknya. Berarti soalnya bocor. Ini terjadi di Jakarta bukan di daerah,” Retno menegaskan. Dia juga menemukan praktik jual beli kunci jawaban masih marak terjadi. Retno misalnya menyebut kisaran harga per paket soal mencapai Rp 8 juta. Siswa pun tak kehilangan akal untuk mendapatkannya. Mereka, kata Retno, patungan untuk membeli kunci jawaban tersebut. “Walaupun sudah ada 20 tipe soal, tapi kecurangan tetap ada. Tahun ini terparah,” tandasnya. Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud Ibnu Hamad, me-nyadari sepenuhnya protes yang dialamatkan kepada institusinya terkait pelaksanaan UN. Me-nyangkut sejumlah daerah yang terpaksa memfotokopi soal dan lembar jawaban, Ibnu menyatakan, semua dilakukan sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang berlaku. “Panitia setempat akan menanganinya sesuai dengan SOP. Barcode sama itu tidak apa-apa. Hal se-perti itu sudah ada antisipa-sinya,” ujarnya kepada Prioritas, Rabu pekan lalu. Menanggapi merebaknya kunci jawaban, Ibnu meminta masyarakat tidak mudah terkecoh oleh tawaran semacam itu. “Kalau ada yang menyatakan punya kunci jawaban. Perta-nyaannya kunci jawaban atas soal variasi yang mana? Lagipula, di kelas siswa tidak bisa memprediksi variasi soal mana yang bakal diterimanya,” kata guru besar ilmu komunikasi Universitas Indonesia ini. Seorang pegawas ujian memperlihatkan soal dan lembar jawaban Ujian Nasional (UN). Raihan Iskandar, anggota Komisi Pendidikan Dewan Perwakilan Rakyat, menilai pelaksanaan UN tahun ini berada di titik nadir. “Bukannya semakin tahun semakin baik. Manajemen UN sekarang semakin buruk. Ini seharusnya tidak terjadi,” ujarnya. Raihan menyesalkan Kemendikbud yang tidak memanfaatkan dana publik yang demikian besar untuk mengelola UN dengan baik. “Ini menjadi wajah buruk dunia pendidikan. Angka Rp 543,4 miliar untuk UN itu tidak kecil,” katanya. Karena itu, pengamat pendidikan Munif Chatib mengatakan, UN tidak pantas untuk dipertahankan. “Ujian nasional dengan model soal pilihan berganda tidak akan komprehensif dalam menilai siswa,” ujar penulis buku Sekolahnya Manusia ini.
Sumber Berita : http://www.prioritasnews.com/2013/04/24/titik-nadir-ujian-nasional/
Jumat, 19 April 2013
Saatnya Ramai-ramai Menggugat Ujian Nasional
Salam Blogger Persahabatan
Omjay
Diambil dari : http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/19/saatnya-ramai-ramai-menggugat-ujian-nasional-552859.html
Kamis, 18 April 2013
Kecurangan Ujian Nasional Itu Nyata
Kunci jawaban yang ditemukan guru dari siswa (sumber: Grup Facebook IGI)
Foto ini saya peroleh dari grup FB IGI, berasal dari postingan guru yang mendapati siswanya membawa kertas berisi kunci jawaban UN, yang katanya berasal dari sebuah bimbingan belajar. Saya langsung shock melihatnya. Kasak-kusuk bisnis bocoran kunci jawaban seperti ini kan sudah lama kita dengar, dan selalu terjadi tiap tahun saat UN berlangsung.
Senin (15/4) lalu, usai UN SMA hari pertama, seorang guru menelpon saya sambil menahan tangis karena saking marahnya usai dilapori siswanya yang barusan dikasih kunci jawaban oleh sekolahnya (bukan dikasih gratis sih, tapi harus bayar Rp 50-100 ribuan). SMS siswa tersebut fiforward ke HP saya. Belum lama berselang, guru lain yang jadi pengawas UN mengisahkan hal yang mirip. Siswa di sekolah tersebut diminta datang lebih pagi, dikumpulkan di ruangan, lalu dibagikan kunci jawaban. Karena soalnya 20 paket, kunci jawabannya juga 20 paket. Ada yang model lembaran seperti foto ini, atau ada yang model lain LJK-nya difotokopi kecil-kecil, nanti siswa mengeluarkan kunci sesuai paketnya, yang lain dikantongin.
Biasanya, kunci jawaban yang diberikan bukan untuk semua soal, rata-rata hanya 15 sampai 20 soal saja. Setidaknya jawaban yang dijamin benar itu sudah cukup untuk meluluskan siswa. Mungkin ini untuk menghindari siswa satu sekolahan nilainya sempurna, karena mampu menjawab semua soal dengan benar, dan pastinya bakal mengundang kecurigaan. Pengambilan kunci jawaban biasanya dilakukan oleh 2-3 siswa sekitar jam 03.30 di rumah guru yang ditunjuk, lalu siswa yang lain diminta mengambilnya di rumah siswa tersebut, atau janjian di sekolah pagi-pagi sebelum UN berlangsung.
Apakah ini modus baru? Saya yakin tidak. Hanya saja banyak pihak mendiamkannya. Pengawas misalnya tidak ada yang menggeledah saku siswa untuk mencari kunci jawaban tersebut. Atau, seperti dikatakan pengawas yang menemui saya, ketika jam UN selesai, soal dan LJK tidak langsung ditarik, tapi siswa dibiarkan saling diskusi dengan temannya dengan tambahan waktu, sampai LJK terisi penuh.
Di bawah ini adalah postingan salah satu dosen PTN yang penasaran dengan kecurangan UN, lalu meminta para mahasiswanya sharing pengalaman UN saat mereka menjadi siswa. Silakan baca sendiri, saya copas sesuai aslinya. Para dosen boleh melakukan hal yang sama, tanyain saja para mahasiswa, apa iya dulu mereka UN dengan jujur? Saya kok yakin jawabannya akan mirip pengalaman dosen di bawah ini, meski semua siswa saat UN juga menandatangani pernyataan kejujuran di LJK
Tulisan dosen PTN yang saya maksud bisa dibaca di bawah ini (saya copas sesuai aslinya) :
*********
Pendidikan karakter vs UNAS
Pagi kemarin (senin 15-4-2013) saya masuk kelas Speaking. Karena lagi musim UNAS yg disertai dengan berita tertundanya UNAS di 11 provinsi, maka UNAS menjadi topik diskusi kami. Pertanyaan pertama yang saya ajukan kepada mahasiswa “apakah diantara kalian ada yang melaksanakan unas dengan jujur”? Tak ada satupun yang menjawab. Maka diskusi semakin menarik. Saya minta mereka bercerita sejujurnya pengalaman mereka menghadapi unas.
25 mahasiswa yang ada dikelas bercerita satu persatu pengalam mereka. Tak ada sedikitpun yang mereka sembunyikan. Sedih, geram, heran campur menjadi satu mendengar cerita mereka. Bagaimana tidak, semua mengatakan kalau mereka mengerjakan UNAS dengan kecurangan.
Berbagai macam cara dilakukan oleh mereka dan pihak sekolah agar mereka bisa mendapatkan nilai yg baik. Dari diskusi tersebut, ada 4 pihak yang terlibat dalam pelaksanaan UNAS yg tidak jujur:
1. Sekolah/Guru
Di salah satu SMA negeri favorit di Gresik Selatan semuaa murid dikumpulkan pagi sebelum ujian di musholla sekolah. Mereka diajak berdoa bersama. Kemudian pihak sekolah memanggil salah satu siswa dari tiap kelas untuk diberi kunci jawaban dan kemudian di sebarkan ke yang lain.
Lain lagi yg dilakukan oleh guru di salah Satu SMA negeri favorit di surabaya. Wakill kepala sekollah yang mengkondisikan siswa untuk berbuat curang. Dia meminta nmr hp satu siswa tiap kelas dan mengirimi sms kunci jawaban ketika ujian berlangsung. Siswa dkondisikan untuk membawa 2 hp. Yg 1 dserahkan ke pengawas dan yang 1 disimpan.
Cara lain yang dilakukan sekolah meskipun tdk memberikan kunci jawaban, sekolah mengatur sedemikian rupa rupa formasi siswa tiap ruangan. Tiap ruang harus berisi minimal satu siswa yang pandai disetiap mapel dan mereka sebagai pusat contekan. Sebelum ujian, mereka juga diwanti-wanti agar selalu bekerja sama.
2. Siswa
Berbagai macam cara pula yang dilakukan oleh siswa untuk lulus ujian. Tak sedikit diantara mereka yang mengeluarkan uang untuk mendapat kunci jawaban. Mulai dari angka 60 ribu, 100 rbu, 110 ribu, 160 ribu bahkan ada yang sampai mengeluarkan uang sebesar 6 juta.
Cara unik dan terorganisir dilakukan oleh siswa2 di salah satu SMA negeri di sby. Meneruskan tradisi para seniornya, salah satu siswa mengkoordinir siswa satu sekolah untuk mencicil selama satu tahun untuk membeli kunci jawaban. Hingga pada akhirnya iuran tiap siswa mencapai angka 110 ribu.
Hal lain yang dilakukan siswa adalah bekerja sama dengan siswa dari lain sekolah, saling contek dengan bebasnya dikelas dll. Bahkan ada yang cerita kalau selama 90 menit pelaksanaan ujian mereka santai atau pura2 mengerjakan dan 30 menit sisa adalah mengecek jawaban dengan kunci jawaban yang mereka punya.
3. Pengawas
Kecurangan yang sekolah atau siswa lakukan sebenarnya diketahui oleh pengawas dan mereka membiarkan. Buktinya ketika siswa rame saling contek atau tukar jawaban hampir seluruh pengawas membiarkan. Mereka tetap santai membaca koran atau ngobrol dengan pengawas yang lain.
Pagi ini disalah satu stasiun tv juga ditayangkan kondisi kelas ketika ujian berlangsung. Di situbondo salah satu siswa terekam sedang membuka HP tampaknya sedang mengintip kunci jawaban. Di Madura, kelas gaduh karena saling contek dan dibiarkan begitu saja oleh pengawas
4. Lembaga kursus
Tak disangka ternyata lembaga kursus berperan besar terhadap kecurangan yang terjadi dalam UNAS. Beberapa mahasiswa mengungkapkan kalau mereka mendapatkan kunci jawaban dari lembaga kursus dimana mereka belajar. Tidak mengherankan jika sekarang banyak lembaga kursus menawarkan program lulus UNAS dan jika peserta tidak lulus maka uang kembali.
Ternyata kasak kusuk yang berkembang di tengah masyarakat terkait kecurangan UNAS bukan omong kosong. Kalau sudah seperti ini apa gunanya sekolah?
Kenapa pemerintah harus membuang uang miliaran rupiah untuk membuat kurikulum yang konon katanya berbasis karakter dsb. Usaha keras pemerintah, sekolah, guru dan siswa selama 3 tahun untuk yang tampak mulia hangus, dan hancur karena UNAS. Karakter baik yang dibentuk selama 3 tahun rusak gara-gara UNAS. Kalau sudah seperti ini apa layak untuk diteruskan???
Wallahu A’lam
Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/17/kecurangan-ujian-nasional-itu-nyata-552067.html