Rabu, 08 Mei 2013

Siapa yang harus datang paling awal dan pulang paling akhir di sekolah?

 

Dalam Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Organizational Learning, Pendidikan Jepang, SD di Jepang, SMA di Jepang, SMK Jepang, SMP Jepang 

di April 14, 2013 pada 1:15 pm

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan menghadiri pertemuan MGMP IPA SMP se-Kab. Lombok Barat, dan pada kesempatan itu, saya diminta men-share informasi tentang pendidikan sains SMP di Jepang. Dalam kesempatan tersebut, salah satu cerita yang saya sampaikan adalah tentang profesionalisme guru di Jepang dalam bekerja. 

Ada satu slide yang membuat para guru tertawa, yaitu bahwa di Jepang, guru harus datang lebih awal daripada siswanya, dan pulang setelah semua siswa pulang. Lalu, kepala sekolah harus datang paling awal. Beberapa guru sambil tertawa mengatakan, benar…benar…seharusnya begitu, Bu !

Kepala sekolah di Jepang adalah orang pertama yang harus hadir di sekolah, lalu orang kedua yang harus datang atau kadang-kadang mendahului kepala sekolah adalah wakasek. Kalau di Indonesia ada 3 wakasek, maka di Jepang biasanya hanya ada satu wakasek. Di Indonesia ada satpam yang menjaga pintu sekolah, sementara di Jepang tidak ada satpam, dan yang membawa kunci sekolah adalah wakasek atau kepsek. Jadi, otomatis merekalah yang harus datang paling awal.

Mengapa, sekolah Jepang tidak menyewa satpam atau Pak Bon untuk menjaga sekolah? Semuanya tidak perlu, karena tidak ada maling sekolah. Tetapi bukan berarti semua sekolah tidak ada security-nya. Ada juga beberapa sekolah, terutama sekolah swasta yang dilengkapi dengan security, karena ada beberapa kasus penculikan anak pernah terjadi.

Lalu, apa keuntungan datang paling awal di sekolah bagi seorang kepala sekolah? Banyak sekali. Setidaknya dia dapat mengecek kondisi sekolahnya sudah siap dan aman untuk proses belajar siswa. Yang dilakukan oleh kepala sekolah ketika sampai di sekolahnya bukan mengecek tumpukan surat di mejanya, atau menandatanganinya, tetapi berkeliling dari kelas ke kelas, ruang ke ruang, hingga terperiksa semua sudut sekolah, hingga tiba saatnya berdiri di pintu gerbang, mengucapkan, “ohayou gozaimasu” (selamat pagi) kepada satu per satu guru dan anak-anak yang datang.

Lalu, siapa yang harus pulang paling akhir? Lagi-lagi kepala sekolah dan wakaseknya, sebab mereka membawa kunci :-)

Sewaktu menjadi kepala sekolah di Sekolah Bhinneka, sekolah untuk anak-anak Indonesia di Nagoya, yang kami selenggarakan bersama para mahasiswa di Gedung ECIS kampus Nagoya University, saya pun harus menjadi orang yang paling belakang pulang, sekalipun kadang-kadang bukan menjadi orang yang pertama datang, terutama jika kebetulan saya harus masuk kerja hari Sabtu, maka biasanya saya harus berlari dari tempat kerja sambilan ke stasiun supaya sempat mengejar kereta tercepat yang sampai ke kampus. Mengapa harus pulang paling belakang? Sebenarnya bisa saja saya pulang dan menitipkan tugas dan tanggung jawab sebagai kepala sekolah kepada teman-teman guru lainnya. Tetapi, barangkali saya sama dengan para kepala sekolah, kami tidak dengan mudah mempercayai orang lain dan agak merasa malu membebani orang lain.

Tanggung jawab saya sebagai kepala sekolah di sekolah kecil tersebut adalah jika sudah selesai pembelajaran, maka saya harus memastikan semua kursi di tiga kelas yang kami pakai, telah tersusun rapi kembali, tidak ada coretan sedikitpun di papan tulis, tidak ada remah-remah penghapus di meja, sampah di ruangan, tidak ada barang siswa yang tertinggal, lampu dan AC atau heater telah dimatikan sebelum langkah terakhir menutup pintu kelas. Pintu kelas akan terkunci secara otomatis, sehingga jika sudah ditutup, maka kami tidak bisa membukanya dari luar. Selanjutnya yang harus saya lakukan adalah mengepel kamar mandi, mengeringkan wastafel yang basah karena dipakai berwudhu, membersihkan tissue yang berceceran di lantai toilet. Dan karena ruang kelas ada di lantai dua, dan para orang tua berkumpul di lantai satu, maka saya perlu memeriksa kebersihan toilet di dua lantai tersebut. Kalau suatu kali ada siswa yang berulang tahun,  atau ada perayaan lain, dan kami memakai aula di lantai satu, maka tugas saya bertambah yaitu mengepel lantai. Tentu saja saya tidak bekerja sendirian, tetapi beberapa orang tua siswa membantu. Namun, bagaimanapun juga, yang mengerti dan merasa paling bertanggung jawab pada tugas tersebut adalah kepala sekolah.

Pernah sekali, saya tidak bisa masuk, dan ternyata rentetan tugas yang biasa saya kerjakan, tidak ada yang menyelesaikannya. Akibatnya, ada barang tercecer, dan pernah pula kami mendapatkan teguran dari pengelola gedung karena lampu tidak dimatikan, padahal kami bersekolah hanya di hari Sabtu, sehingga lampu terus menyala di hari Minggu, dan baru dimatikan pada hari Senin. Karena keteledoran seperti itu, saya harus siap-siap menghadap kepada pimpinan gedung, dan mendengarkan pesan-pesan yang rasanya sudah saya hafal, karena seringnya saya dengar dan baca di surat perjanjian.

Demikianlah, karena tanggung jawab, kepala sekolah datang paling awal dan pulang paling belakangan. Kepala sekolah sebenarnya hanyalah pelayan para siswa dan orang tua.

Sumber : http://murniramli.wordpress.com/2013/04/14/siapa-yang-harus-datang-paling-awal-dan-pulang-paling-akhir-di-sekolah/

 

Baca Selengkapnya → Siapa yang harus datang paling awal dan pulang paling akhir di sekolah?

Kamis, 02 Mei 2013

Hardiknas Kelabu

Catatan Eko Prasetyo
bergiat di Ikatan Guru Indonesia
 
Hari ini kita memperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hari yang diharapkan selalu gemilang oleh prestasi dan capaian-capaian positif lainnya. Namun, sulit mengatakan bahwa Hardiknas saat ini penuh kegemilangan.
 
Sebab, fakta yang ada sekarang justru membuat kita layak mengelus dada. Betapa tidak, beberapa pekan sebelum Hardiknas, kita dikejutkan oleh pelaksanaan ujian nasional (unas) yang amburadul.
 
Sebagaimana diketahui, pelaksaan unas di beberapa daerah diundur karena problem distribusi soal. Penyebabnya, soal-soal unas belum selesai dicetak. Usul yang diberikan pun sulit diterima dengan akal sehat, yakni soal unas difotokopi agar pelaksanaannya tidak mundur.
 
Di sisi lain, seperti tahun-tahun sebelumnya, unas SMA dan SMP yang telah berlangsung lalu diwarnai dengan kasus dugaan kebocoran jawaban. Perang opini pun tak terelakkan di berbagai media. Tudingan mengarah ke Kemendikbud yang dianggap gagal melaksanakan unas tahun ini.
 
Akan tetapi, yang patut dicermati adalah ”kesalehan sosial” secara mendadak yang terjadi sebelum pelaksanaan unas. Misalnya, pensil 2B yang diberi jampi-jampi agar tokcer ketika unas dan istighotsah massal. Juga acara tangis-tangisan menjelang unas. Ponari juga kebanjiran job untuk memberikan tuah ”batu saktinya” kepada para peserta unas.
 
Tak heran, desakan agar unas dihentikan pun merebak. Bahkan, Mendikbud M. Nuh dituntut bertanggung jawab atas kegagalan pelaksanaan unas. Namun, ia menepis semua tudingan tersebut. Sebagaimana disebutkannya di media massa, unas tahun ini berlangsung baik. Meski, fakta di lapangan memberikan banyak laporan kecurangan unas.
 
Presiden SBY pun tak menampakkan sikap untuk “menjewer” Mendikbud. Artinya, sejauh ini posisi M. Nuh tampaknya masih aman.  
 
Apabila dicermati, sikap keukeuh Mendikbud yang tidak bersedia mundur –meski faktanya pelaksanaan unas telah gagal– bisa dipahami. Pasalnya, ada hajatan yang lebih besar. Yakni, kurikulum 2013 yang rencananya dihelat pada tahun ajaran baru nanti.
 
Seperti diketahui, kurikulum baru ini bisa dikatakan masih abu-abu. Belum jelas. Di tengah waktu yang sangat mepet, training bagi sekitar tiga juta guru untuk rencana pelaksanaan kurikulum baru itu juga mustahil dilakukan secara serentak dan merata.
 
Dengan kondisi yang karut-marut ini, tak heran jika suara-suara yang menentang pelaksanaan kurikulum 2013 semakin deras. Di tengah arus penolakan tersebut, Mendikbud tetap gigih. Sungguh suasana Hardiknas seperti ini sangat tidak diinginkan.
 
Kita tentu berharap agar pendidikan Indonesia semakin maju. Bukan melihat pro dan kontra yang justru berpotensi merugikan seluruh elemen pendidikan. Sebab, hal ini tentu saja bisa merugikan para guru dan anak-anak didik kita. Potret buram unas dan rencana kurikulum 2013 ini mesti segera diatasi. Kita tentu tidak berharap melihat perayaan Hardiknas seperti sekarang. Karut-marut!
 
 
Surabaya, 2 Mei 2013
Baca Selengkapnya → Hardiknas Kelabu

Rabu, 01 Mei 2013

Info Untuk Anggota FoMS Mei 2013

Diberitahukan kepada seluruh Anggota FoMS, bahwa akan dilaksanakan Peringatan Isro' Mi'roj Nabi Muhammad SAW, sekaligus Perpisahan Siswa-Siswi SMK Amirul Mu'minin Sidareja dan Haul Simbah K.H. Abdullah Ihsan pada tanggal 14, 15, dan 16 Mei 2013 yang diselenggarakan oleh FoMS bekerja sama dengan SMK Amirul Mu'minin Sidareja.

Demi kelancaran serta terlaksananya kegiatan tersebut, maka seluruh Anggota FoMS diwajibkan iuran sebesar Rp 30.000,- per orang dan diserahkan kepada Ibu Siti Nurlaela, S.Ag.

Ttd.

Ketua FoMS

Baca Selengkapnya → Info Untuk Anggota FoMS Mei 2013

Ilmuwan Indonesia yang Terlupakan

136695313146328861

Joe Hin Tjio (Sumber: Wikipedia)

 

 

Awal abad 20, tepatnya pra kemerdekaan, masyarakat keturunan Tionghoa semakin meningkat. Ini ditandai dengan semakin kuatnya eksistensi komunis di Indonesia. Masyarakat Tionghoa yang bermigrasi dari Asia sudut timur, menetap dalam tempo yang lama sehingga menjadi warga Negara Indonesia. Jadilah sampai sekarang masarakat berdarah Tionghoa menjamur di saentro NKRI. Realitas ini ternyata menghadirkan seorang tokoh dunia berdarah Tionghoa yang lahir di Indonesia bernama Joe Hin Tjio lahir di Pulau Jawa tanggal 2 November 1919 (lebih muda 18 tahun dari Bung Karno) dan meninggal tanggal 27 November 2001 di Gaithersburg, MD., Amerika Serikat.

Menapak tilas kehidupan Joe, lahir ketika zaman kependudukan penjajah Belanda. Joe merupakan Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mengambil konsentrasi ilmu tentang hiibrida (pewarisan sifat). Sempat dipenjara selama tiga tahun pada zaman kependudukan penjajah Jepang. Setelah itu hijrah ke Spanyol untuk melanjutkan Studi. Dan disinilah karirnya dalam bidang sains semakin menanjak.

Setiap manusia yang mempelajari Sains di sekolah setidaknya pasti pernah mempelajari tentang genetik atau kromosom. Dan jika ditanya tentang jumlah kromosom manusia, maka setiap siswa akan serentak menjawab bahwa ada 46 jumlah kromosom dengan pola, 22pasang + XY (untuk laki-laki) dan 22 Pasang + XX (untuk susunan kromosom Perempuan). Namun tidak banyak yang tahu, ternyata dari tahun 1921 sampai 1955, semua manusia ketika itu menganggap bahwa jumlah kromosom manusia ada 46. Asumsi ini diperoleh setelah Theophilus Painter melakukan penelitian dan menlihat bahwa di dalam sel yang diteliti mengandung 48 kromosom. Apalgi setelah penelitian sebelumnya tentang sel gorilla dan simpase, ditemukan jumlah kromosom ada 48. Sehingga ini semakin menjelaskan bahwa manusia masih erat hubungannya dengan gorilla dan sinpanse dalam kelas primate. Namun setelah 32 tahun asumsi painter bertahan, pada tahun 1955, seorang Indonesia bernama Joe Hin Tjio mematahkan asumsi painter. Setelah melakukan penelitian dan ditemukan ternyata di dalam sel mengandung 46 kromosom.

Teori Painter pun patah dan ini memunculkan kesimpulan baru bahwa manusia menjadi bangsa ungka yang memiliki 46 kromosom. Teori baru yang ditetapkan dari hasil penelitian Joe dibantu Levan (seorang Swedish) bertahan sampai sekarang. Dan Joe pada saat itu sempat berujar: “Rasanya tidak ada orang yang begitu buta sehingga tidak melihat yang mereka lihat.”

Dampak dari penemuan baru Joe ini ternyata mempengaruhi pihak Vatikan. Pada tahun 1996 secara mengejutkan Paus Johanes-Paulus II, pemimpin Umat KAtolik waktu itu berpesan bahwa: “antara Kera purba dan Manusia modern terdapat suatu “diskontinuitas ontologism” -yakni suatu tahap ketika Tuhan meniupkan ruh ke dalam sosok yang semula turunan hewan. Maka kita boleh mengatakan bahwa dengan ini Gereja Katolik secara resmi mulai dapat menerima teori evolusi.”

 

Pada dasasrnya hewan ungka memiliki 48 kromosom. Namun manusia menjadi berbeda ketika jumlah kormosomnya 46 buah. Namun penelitian selanjutnya melihat bahwa ada kemiripin di satu pasang kromosom pada manusia yang cukup besar dengan dua pasang kromosom yang ada di hewan Ungka lainnya seperti Sinpanse. Dan terori baru pun menggema. Para peneliti beramsumsi bahwa telah terjadi evolusi pada kromosom. Dua pasang kromosom pada ungka berfusi dan membentuk satu pasang kromosom. Dan inilah yang dimaksud oleh Paus Johanes Paulus II dengan tiupan ruh, dua menjadi satu.

Sumber : http://sosok.kompasiana.com/2013/04/26/ilmuwan-indonesia-yang-terlupakan-550399.html

Baca Selengkapnya → Ilmuwan Indonesia yang Terlupakan

Minggu, 28 April 2013

Dari Balik Balkon Rakyat

oleh Ifa H. Misbach (Catatan) pada 28 April 2013 pukul 18:36

Reportase kali ini bukan bahasa media, ini bahasa ala diriku saja sebagai rakyat yang terserang gelisah.

Pada Jumat, 26 April 2013 jam 14.45 s.d. 21.00 wib, saya dengan bu Retno dan beberapa kawan dari aliansi revolusi pendidikan, serta beberapa guru FSGI berkesempatan mengikuti jalannya raker antara Mendikbud dan Komisi X DPR RI membahas kacaunya penyelanggaraan UN 2013.

Setelah raker di buka oleh Ketua Komisi X (Partai Demokrat), kemudian Medikbud dipersilahkan menjelaskan “duduk persoalan” kacau balaunya UN. Mendikbud didampingi jajarannya secara lengkap, yang bu Retno hitung jumlahnya mencapai 31 orang. Selain seluruh eselon 1, Mendikbud juga didamping BSNP dan beberapa rektor.

Setelah Mendikbud selesai menjelaskan, dilanjutkan dengan para anggota komisi X bergantian berbicara. Dalam rapat kerja tersebut, komisi X DPR mendesak Kemendikbud untuk mengevaluasi seluruh proses penyelenggaraan ujian nasional mulai dari tujuan hingga prosedur teknis pelaksanaan.

Mayoritas anggota komisi X menyorot tajam kinerja Mendikbud dan jajarannya.
Selama saya menyimak rapat dengar pendapat antara jajaran kemendikbud dengan anggota komisi X, saya harus memberikan apresiasi kepada kegigihan setiap anggota komisi X yang sudah menyerang kemendikbud dari segala sisi, dari mulai: 

  • Aspek2 hukum penyelenggaraan UN yang terlanggar. Jika pemerintah tetap menggunakan hasil UN diijadikan penentu kelulusan dan tiket masuk PTN maka kemendikbud akan digugat secara hukum karena UN tidak akuntabel dan tidak profesional serta melanggar rasa keadilan masyarakat.
  • Cacatnya pelaksanaan teknis operasional yang berdampak pada hasil validitas yang meragukan.
  • Mendesak kemendikbud mengambil langkah pertanggungjawaban moral untuk menyatakan bahwa hasil UN 2013 tidak sah secara hukum untuk dijadikan tiket masuk ke PTN.
  • Mendesak ke depannya UN dilakukan secara rayonisasi/per-wilayah agar lebih efisien. Karena faktanya UN sangat menghamburkan biaya negara. Dari mulai pengerahan awak Kepolisian, TNI AD, AU, AL dikerahkan. Biaya darimana menggunakan pesawat Foker, Boeing 737, dll.
  • Keluhan banyak sekolah mengeluarkan biaya fotokopi+bayar pengawas lebih dari 50 juta/sekolah. Sedangkan dana dari kemendikbud hanya 9 juta per sekolah
  • Azas keadilan yang terlanggar pada 11 provinsi.
  • Pengabaian dan kelalaian kemendikbud terhadap dampak psikologis jutaan siswa yang dibiarkan menunggu berhari-hari menunggu tanpa kepastian. Bahkan kemendikbud memaksakan 1 sekolah melakukan UN pada jam 6 sore (secara psikologis itu jam penurunan konsentrasi terendah).
  • Mendesak pak Nuh mengambil sikap mundur sebagai pertanggungjawaban moral tanpa disuruh SBY
  • Mendesak pak Nuh mengambil momentum mengevaluasi total kinerja struktur organisasi kemendikbud dan BNSP.
  • Pengaduan bentuk kecurangan yang dilaporkan masyarakat tidak pernah ditindaklanjuti secara tegas oleh kemendikbud.
  • Mempertanyakan mengapa 8 standar sebagai putusan MA yang ada di PP 19 tidak dipenuhi terlebih dulu.
  • Mempertanyakan kenapa PT Galia Printing terpilih sbg pemenang tender yang jelas2 bukan perusahaan yang memiliki security printing.
  • Ketidakadilan bagi siswa-siswa di pelosok misalnya NTT dan Papua yang tidak pernah mengenal objek-objek yang ada dalam soal-soal UN, tetapi objek2 itu familiar buat anak-anak di pulau Jawa.
  • Kualitas lembar jawaban di bawah 70 gram (para anggota dewan menebak mungkin kelas kertas 60 gr, atau semacam kertas singkong) yang anggota dewan mencoba langsung jika menghapus sobek atau jawabannya blobor kemana2 sulit dibaca. 
  • Bagaimana dengan soal yang tertukar antara 1 mata pelajaran dengan pelajaran lain/soal kurang/soal ditokopi, bahkan ada 1 sekolah yang di pelosok tidak punya mesin fotokopi sehingga 1 soal digilir untuk 25 siswa dalam 1 kelas. Dan itu merepotkan pengawas yang memindahkan jawaban ke lembar jawaban resmi.
  • Mendesak fungsi UN hanya sebagai fungsi pemetaan, bukan penentu kelulusan siswa. Oleh karena itu, kembalikan hak guru dan satuan pendidikan yang berhak untuk melakukan penilaian pada siswa berdasarkan UU Sisdiknas, bukan oleh pihak pemerintah yang tidak tahu perilaku siswa sehari2 di kelas.
  • Sikap pak Nuh yang menyakiti hati jutaan rakyat Indonesia yang sedang galau dengan kekacauan UN, malah melakukan lelucon tidak lucu berjalan mundur sambil cengengesan di depan media.
  • Yang LUPUT ditanyakan anggota komisi X adalah: kalo ya UN buat pemetaan mana hasil petanya dari thn 2004 sampai 2012? Itu tidak ada satu pun yang menanyakan.


Respon dari kemendikbud (tidak dijawab semua) : 

  • Intinya para rektor yang dibawa pak Nuh menyampaikan bahwa hasil validitas tidak ada masalah karena sudah dilakukan manual meskipun kualitas kertas jawaban yang sulit dibaca/mudah sobek, karena mereka melakukan manual.
  • Rektor ITB yang diharapkan bersikap tegas, hanya menjelaskan teknis hasil UN dan komposisi nilai raport untuk masuk jalur SMPTN
  • Menyatakan pada anggota komisi X bahwa hasil kelulusan UN akan tepat waktu karena mereka bekerja 24 jam
  • pak Nuh bilang tidak bisa memutuskan bahwa hasil UN 2013 tidak sah, karena toh di 22 provinsi baek2 saja (hiks,...kita harus berjuang keras).
  • Pak Nuh menanggapi langkah mundur adalah yang berhak mencopot dirinya dalam jabatan mendikbud adalah presiden. (ini...sinyal pak Nuh tidak akan mengambil langkah mundur layaknya para pejabat Jepang yang malu secara moral jika melakukan kesalahan pada rakyat)


Intinya jawaban jajaran pak Nuh tidak menyakinkan dan terbata-bata, sehingga itu yang dipertanyakan sejumlah anggota komisi X, kok para profesor yang dibawa pak Nuh seperti tidak memahami dan ga pernah melakukan penelitian terstandar yang memahami validitas, sepertinya para profesor ini baek-baek saja padahal sudah tau administrasi pengukuran yang prosedurnya tidak sama akan menghasilkan bias yang besar dan itu tidak adil bagi kondisi jutaan siswa yang tidak sama. Makanya keluar perkataan seorang anggota komisi X mengapa para profesor ini tidak ada yang melakukan PEMBERONTAKAN INTELEKTUAL dan masih pasang badan utk UN?

Saya yakin para rektor dan profesor lainnya di luar yang dibawa pak Nuh, pasti akan gerah melihat koleganya seperti badut-badut intelektual yang TIDAK berani mengkritisi pak Nuh dan tidak berani menolak hasil UN yang sudah cacat dari segala aspek. Karena apa yang disampaikan rektor2 yang dibawa pak Nuh sangat menyedihkan. Malu rasanya sebagai orang akademisi menyaksikan argumen mereka yang lemah dan malah balik ditertawakan oleh para anggota komisi X lainya. Perlu ada gerakan para rektor dan profesor untuk membersihkan kredibilitas para rektor lainnya di luar yang dibawa pak Nuh jumat kemarin, karena saya masih yakin bahwa masih banyak para profesor dan rektor yang masih 'waras' dan lebih banyak lagi yang memiliki pemikiran inteletual yang berbobot.

Sejumlah kawan lain skeptis dengan sikap komisi X, apakah mereka memang sedang benar-benar berjuang untuk kepentingan rakyat atau hanya untuk menaikan nilai tawar mereka? 

Tetapi apa yang mata saya lihat adalah 100% sikap anggota komisi X seluruhnya menentang hasil UN tanpa kecuali. Yang berbeda hanya derajat kegalakannya saja dari yang sangat galak sampai satu bapak anggota dewan yang paling lembut berpantun mengutip petuah nasihat bijak Semar "ora rumaso biso" untuk menyindir pak Nuh. Seorang ibu anggota dewan yang diberikan kesempatan pertama menyampaikan pendapat menyampaikan pendapat dengan gayanya sangat unik karena mengkombinasikan rasa sayang ibu, kemarahan masyarakat, dan usulan konkrit ke depan agar UN dilakukan sistem rayonisasi.

Saya tidak tahu apakah kesamaan sikap ini karena semua anggota komisi X sudah menyaksikan sendiri kekacauan UN dan sebagian besar mereka turun berkeliling ke daerah-daerah. Jadi mereka mendengarkan keluhan langsung para siswa, guru, pengawas dan para kepala daerah.

Tapi saya bisa paham sikap skeptis kawan-kawan saya yang lain yang pernah bertemu langsung dengan komisi X, karena mereka kan para politisi. Who knows? di balik kegarangan mereka.

Saya bener2 migrain semaleman pulang dari DPR, gemas, sedih melihat badut2 akademisi intelektual ini, rasanya campur aduk, biarin deh disebut lebay juga. Rasanya pengen treak di kuping pak Nuh bahwa keberhasilan sistem pendidikan kita hanya mampu menghasilkan kebanyakan akademisi (yang mungkin pintar) tetapi tidak memiliki keberanian menyatakan TIDAK terhadap kemungkaran yang sudah jelas ada bukti dan fakta di depan mata.

Tapi saya masih berusaha menyisakan ruang 'hope' di kepala saya, karena saya selalu yakin kelak anak-anak generasi penerus kita akan mencatat apa yang kita perjuangkan tidak akan berakhir sia-sia meskipun resultnya ga bisa langsung instant seperti yang kita harapkan. Karena momentum pergerakan pelajar yang marah dengan UN juga sudah bergerak menggalang aksi untuk hari pendidikan 2 Mei, akan bergabung dengan guru dan buruh. Kita tidak tahu manakala Tuhan membuka momentum perubahan dengan cepat. Yang saya tahu Tuhan hanya akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri yang merubah nasib dengan tangannya sendiri. Dan perubahan itu ada pada keberanian SELURUH guru di tanah air. Saat ini yang hanya berani adalah segelintir guru saja yang saling menguatkan karena kurangnya dukungan dari rekan-rekannya sendiri. 

Saya bukan guru. Saya hanyalah orang yang tersentuh nurani dengan keberanian dan kegigihan dari rekan-rekan guru pemberani yang masih segelintir jumlahnya. 

Selamat Menyambut Hari Pendidikan Nasional Untuk Para Sahabat Guru Tercinta.

Jangan pernah mengutuk kegelapan meskipun jalan mewujudkan sistem pendidikan yang adil penuh jalan terjal.

Jangan menyerah untuk ditindas. 

-Catatan kegelisahan di balik balkon rakyat-
Jumat, 29 April 2013

Sumber : https://www.facebook.com/groups/igipusat/permalink/10152348099131393/

Baca Selengkapnya → Dari Balik Balkon Rakyat