Kamis, 02 Mei 2013

Hardiknas Kelabu

Catatan Eko Prasetyo
bergiat di Ikatan Guru Indonesia
 
Hari ini kita memperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hari yang diharapkan selalu gemilang oleh prestasi dan capaian-capaian positif lainnya. Namun, sulit mengatakan bahwa Hardiknas saat ini penuh kegemilangan.
 
Sebab, fakta yang ada sekarang justru membuat kita layak mengelus dada. Betapa tidak, beberapa pekan sebelum Hardiknas, kita dikejutkan oleh pelaksanaan ujian nasional (unas) yang amburadul.
 
Sebagaimana diketahui, pelaksaan unas di beberapa daerah diundur karena problem distribusi soal. Penyebabnya, soal-soal unas belum selesai dicetak. Usul yang diberikan pun sulit diterima dengan akal sehat, yakni soal unas difotokopi agar pelaksanaannya tidak mundur.
 
Di sisi lain, seperti tahun-tahun sebelumnya, unas SMA dan SMP yang telah berlangsung lalu diwarnai dengan kasus dugaan kebocoran jawaban. Perang opini pun tak terelakkan di berbagai media. Tudingan mengarah ke Kemendikbud yang dianggap gagal melaksanakan unas tahun ini.
 
Akan tetapi, yang patut dicermati adalah ”kesalehan sosial” secara mendadak yang terjadi sebelum pelaksanaan unas. Misalnya, pensil 2B yang diberi jampi-jampi agar tokcer ketika unas dan istighotsah massal. Juga acara tangis-tangisan menjelang unas. Ponari juga kebanjiran job untuk memberikan tuah ”batu saktinya” kepada para peserta unas.
 
Tak heran, desakan agar unas dihentikan pun merebak. Bahkan, Mendikbud M. Nuh dituntut bertanggung jawab atas kegagalan pelaksanaan unas. Namun, ia menepis semua tudingan tersebut. Sebagaimana disebutkannya di media massa, unas tahun ini berlangsung baik. Meski, fakta di lapangan memberikan banyak laporan kecurangan unas.
 
Presiden SBY pun tak menampakkan sikap untuk “menjewer” Mendikbud. Artinya, sejauh ini posisi M. Nuh tampaknya masih aman.  
 
Apabila dicermati, sikap keukeuh Mendikbud yang tidak bersedia mundur –meski faktanya pelaksanaan unas telah gagal– bisa dipahami. Pasalnya, ada hajatan yang lebih besar. Yakni, kurikulum 2013 yang rencananya dihelat pada tahun ajaran baru nanti.
 
Seperti diketahui, kurikulum baru ini bisa dikatakan masih abu-abu. Belum jelas. Di tengah waktu yang sangat mepet, training bagi sekitar tiga juta guru untuk rencana pelaksanaan kurikulum baru itu juga mustahil dilakukan secara serentak dan merata.
 
Dengan kondisi yang karut-marut ini, tak heran jika suara-suara yang menentang pelaksanaan kurikulum 2013 semakin deras. Di tengah arus penolakan tersebut, Mendikbud tetap gigih. Sungguh suasana Hardiknas seperti ini sangat tidak diinginkan.
 
Kita tentu berharap agar pendidikan Indonesia semakin maju. Bukan melihat pro dan kontra yang justru berpotensi merugikan seluruh elemen pendidikan. Sebab, hal ini tentu saja bisa merugikan para guru dan anak-anak didik kita. Potret buram unas dan rencana kurikulum 2013 ini mesti segera diatasi. Kita tentu tidak berharap melihat perayaan Hardiknas seperti sekarang. Karut-marut!
 
 
Surabaya, 2 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar